Cara Memandang Sesama

Minggu, 14 Juli 2013
Hari Minggu Biasa XV

Ul 30:10-14
Kol 1:15-20
Luk 10:25-37

2 GIRLCara kita memandang seseorang menentukan cara kita memperlakukannya.

Terkadang kita dengan semena-mena menghakimi dan memvonis orang lain itu berdosa, menjelek-jelekkan atau menyindir dan menyudutkan orang lain akan kesalahannya haya karena hal2 yang kita dengar dari orang lain maupun karena kita lihat sekilas.

Ada 3 hal yang mempengaruhi bagaimana cara kita memandang orang lain:

1. Jebakan stereotipe. Baik stereotipe jabatan, ras atau lain-lain. Kita seringkali menggolongkan orang2 ke dalam beberapa kelompok manusia baik berdasarkan uku, ras, agama atau lain2 dan kita mencantumkan serangkaian label-label seakan-seakan semua anggota dari kelompok tersebut akan bertindak dan bersikap seperti label-label yang kita ‘paksakan’. Misalnya orang suku A suka ngayun2kan clurit, orang suku B pelit, orang suku C pemalas. Ini adalah hal yang salah!

2. Prejudice alias prasangka. Seringkali sebelum kita mengenal orang kita telah memasangkan terlebih dahulu ‘label2’ hanya berdasarkan penampilan luar, perkataan awal atau lain2 tanpa mengetahui seperti apa sih isinya. Sama seperti kita mengatakan suatu produk makanan kaleng enak atau tidak hanya berdasarkan kemasan tanpa pernah mencoba isi dalam kalengnya. Hal ini juga salah

3. Trend sosial. Kita menilai seseorang karena semuaorang lain juga menilainya demikian. Betulkah pola pikir yang seperti ini? Jawabannya tentu saja tidak, mengapa? karena orang lain saja benar. Gosip itu seperti kromosom bakteri, mudah mengalami mutasi dan degradasi informasi. Si A bilang ke si B: “Toko di sebelah bau busuk.”; si B ke C: “Toko sebelah busuk, kurang bersih”; C ke D: “Toko sebelah ga bersih, jangan beli.” dan seterusnya hingga akhirnya menjadi: “Toko sebelah jual makanan busuk.” Hati-hati, gosip itu dapat menyesatkan dan disesatkan. Jangan jadikan persepsi sosial menjadi satu2nya tolak ukur menilai seseorang. Itu salah.

Homo Homini Lupus: Manusia adalah serigala bagi sesamanya. Kalau manusia merasa bahwa orang itu adalah bagian dari ‘kawanan’nya maka ia akan membelanya, namun seandainya dia merasa orang lain ‘bukan kawanan’nya maka halal untuk dimangsa. Dalam hal ini manusia tak kalah malah lebih ganas dari bintang terbuas sekalipun. Mengapa karena terdapat salah persepsi mengenai bagaimana memandang dan memperlakukan orang lain.

Manusia itu tidak sempurna dan seringkali berbuat salah dan dosa, namun seringkali juga manusia membesar-besarkan masalah, kesalahan dan dosa orang lain. Memberikan ‘label’, mencibir, melempar cacian dan sebagainya. Haruskah demikian?

jawabnya tidak, mari kita berkaca kepada tokoh yang selalu dapat memberikan panutan pada kita dan menjadi teladan dalam hal ini: Kristus Yesus.

TUHAN melihat sesuai proporsi yang ada: Tidak mengganggap seolah-olah wanita Samaria tersebut tidak berdosa namun juga tidak membesar-besarkan dosa wanita tersebut.

Mari kita telaah sebentar perihal wanita tersebut:

1. Dia telah menikah 5 kali. Mengapa bisa sedemikian banyak? Bisa saja karena dia diceraikan atau suaminya mati, jangabn kita vonis ‘zinah’. TUHAN Yesus tahu hal ini, namun bukan ini yang dia permasalahkan. Oleh sebab itu Yesus menjawab penjelasan wanita tersebut bahwa dia tidak memiliki suami adalah “Benar.” bukan “Salah.”

2. Dia tinggal dengan pria dalam satu rumah tanpa ikatan pernikahan. Inilah kesalahan wanita tersebut, mengapa wanita tersebut tinggal serumah dengan pria tanpa menikah? Mungkin karena wanita tersebut susah mendapat persetujuan (siapa yang mengizinan kerabatnya menikah dengan wanita yang dah nikah 5 kali?) atau karena tidak direstui atau hal yang lain2. Namun tetap saja ini adalah pelanggaran dan inilah yang ditunjukan oleh Yesus kepada wanita Samaria tersebut.

Kita dapat belajar 2 hal dari Yesus:

1. Semua orang perlu mendapatkan kasih karunia dari TUHAN. Tidaklah heran Yesus memulai percakapan dengan kata ‘kasih karunia’. Orang berdosa sekalipun perlu kasih karunia, maka dari itu kita perlu menunjukkan kepada mereka bagaimana bentuk kasih karunia tersebut. Gandhi pernah kecewa dengan orang Kristen di Afrika Selatan, mengapa? Karena mereka menganggap bahwa orang kulit hitam dan orang India tidak pantas mendapatkan kasih karunia. Ini adalah hal yang salah, TUHAN menerbitkan mataari untuk orang jahat dan baik, terlebih lagi anak TUHAN, harus menunjukkan kasih karunia kepada semua orang tanpa terkecuali.

2. Memperhatikan pergumulan orang lain. TUHAN Yesus tahu bahwa wanita tersebut mempunyai permasalahan dalam kehidupan perikahannya di mana wanita tersebut sudah menikah 5 kali dan sekarang tinggal dengan orang tanpa menikah. Dia tidak menghakimi wanita tersebut namun dia menunjukkan bahwa dia mengetahui dan mengerti permasalahan wanita itu. Di sini ada pengertian aspek empatik. Dalam hubungan manusia terkadang kita memperlakukan orang lain sbegai obyek dan kita sebagai subyek, sehingga terkadang kita tidak perduli… Seharusnya kita memperlakukan orang lain sebagai subyek juga seperti diri kita sendiri.

Jadi mari kita renungkan:

1. Apakah kita sering memperlakukan orang lain hanya karena kita memandang dia rendah atau jelak tau lain2 tanpa mengetahui duduk garis besarnya?

2. Apakah kita sering membesar2kan masalah orang lain? Menggosipkannya ke orang lain?

3. Apakah kita sering ‘membuat’ masalah bagi sesama kita akibat cara kita memperlakukan atau memandang orang lain?

Kita sudah tahu apa yang harus kita perbuat jadi seperti kata Yesus: “PERGILAH DAN BERBUATLAH DEMIKIAN.”

 

KlinikCerita

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s