Kerajaan Surga dalam Injil Mateus: “Merenungkan Makna Kerajaan Surga dan Hubungannya Dengan Gereja”

Kerajaan Surga dalam Injil Mateus: “Merenungkan Makna Kerajaan Surga dan Hubungannya Dengan  Gereja”

 

 

Dengan apakah manusia dapat memahami apa itu Kerajaan Surga dalam banyak kesempatan Yesus selalu menjelaskan mengenai Kerajaan Surga dalam beberapa kotbah dan pengajaran baik kepada para Rasul maupu kepada umat yang selalu menyertai Yesus. Sering Yesus menggunakan beberapa perumpamaan, tentu penggunaan perumpamaan ini dimaksudkan agar kerajaan Allah dapat dipahami oleh setiap orang dengan lebih baik. Dalam tulisan ini kita akan mencoba melihat sekilas perumpamaan apa saja yang dipakai oleh Injil Mateus dalam mencoba menggambarkan mengenai Kerajaan Surga. Setidaknya ada sebelas perumpamaan yang dipakai Yesus yang dapat ditemukan dalam Injil Mateus. Dalam tulisan ini kita akan melihat dua perumpamaan mengenai Kerajaan Sorga yaitu seumpuama ilalang dan pukat, pada akhir tulisan ini penulis akan menawarkan satu kesimpulan mengenai gambaran Kerajaan Allah dalam Injil Mateus.

 

Perumpamaan mengenai Ilalang (Mat 13:24-30)

Pertama, “Orang yang menaburkan benih”(Mat 13:24); dalam perumpamaan ini diceritakan bahwa hanya benih yang baik yang ditaburkan oleh seorang petani. Namun dalam perjalanan waktu musuh menaburkan juga benih ilalang. Ilalang yang ditaburkan ini bukan sembarangan ilalang, merupakan jenis namun adalah jenis zizanium, yaitu sejenis gandum liar, atau juga dikenal sebagai cockle, tare atau darnel. Jenis lalang ini sangat sulit dibedakan dengan gandum biasa, karena bentuknya yang serupa. Kalau seseorang mencoba memisahkan lalang dengan gandum sebelum waktunya, maka mereka dapat salah mencabut.

Ilalang dalam hal ini merupakan tanaman yang mengganggu yang mencoba untuk mengambil setiap unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Sehingga ilalang merupakan tumbuhan yang tidak diharapkan untuk tumbuh di dalam suatu lahan pertanian sebab kehadirannya akan mengganggu pertumbuhan tanaman yang ditanam petani dalam suatu lahan pertanian.

Dalam bagian mengenai ilalang ini (ay.23-42), Kristus memberikan perumpamaan bahwa untuk dapat mencapai Kerajaan Sorga, diperlukan kewaspadaan dan senantiasa berjaga karena si jahat menaburkan benih lalang, dan dengan demikian secara aktif merusak benih yang baik yang ditaburkan oleh Kristus. Kisah ini ingin menggambarkan bahwa di dalam komunitas gerejawi tidak saja kumpulan orang-orang yang suci melainkan komunitas Gerejawi adalah komunitas yang terdiri dari berbagai manusia dengan bermacam kelebihan dan kekurangan. Namun kesemuanya berjuang dan hidup untuk menuju pada kesucian. Seluruh anggota komunitas Gerejawi yang artinya seluruh umat manusia berjuang untuk menjadikan hidupnya lebih suci. Perjuangan untuk meraih kesucian ini tentu menghadapi banyak tantangan dan kesulitan yang mana dalam hal ini diumpamakan sebagai ilalang.

Kita cenderung menginginkan suatu komunitas kristiani yang sempurna, lalu kita gelisah dan menyibukkan diri untuk mencabut lalang di dalam dan di sekeliling kita.  Celaka terbesar terjadi justru karena usaha kita menghapus kejahatan. Lebih lagi jika kita mempergunakan kekerasan dengan dalih-dalih keagamaan dan dengan demikian kita melanggar kebebasan manusia.

Kebaikan itu akan menang hanya pada akhirnya, dan itu pula berkat karya Allah sendiri. Saat kini adalah waktu kasabaran kita, dan kesabaran Tuhan.: Ia menganggap kejahatan kita wadah belas kasihan-Nya. Belas kasihan itu kita terima dan mesti kita langsungkan kepada orang lain.  Gereja itu bukan suatu sekte orang-orang orang suci: di dalam Gereja ada tempat untuk semua orang. Kejahatan itu menjadi kesempatan untuk memegahkan kebaikan, karena dengan menerapkan belas kasihan, kita menjadi anak-anak Bapa yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar

 

Perumpamaan Mengenai Pukat (Mat 13:47-50)

Kedua, “Pukat yang menangkap ikan yang baik dan yang tidak baik”. Dalam bagian lain Injil Mateus Yesus meberikan perumpamaan yang lain mengenai Kerajaan Allah yang kali ini digambarkan sebagai pukat yang menangkap ikan. Pukat dalam hal ini adalah sebuah jala yang besar sehingga karena sedemikian besar jala ini maka diperlukan dua buah perahu untuk dapat menarik pukat di kedua ujungnya. Dengan jala ini maka ikan yang ditangkap oleh nelayan dapat menjadi sedemikian banyak sebab dengan jala ini dapat ditangkap segala jenis ikan baik itu ikan besar maupun ikan kecil. Jala ini akan dihanyutkan di tengah lautan lalu secara berlahan akan ditarik dengan dua perahu atau kapal menuju ke daratan. Sehingga nelayan akan mendapatkan hasil berbagai jenis ikan baik ikan yang berukuran besar maupun kecil, ikan yang baik juga ikan yang memiliki kualitas yang jelek.

Ini merupakan pararel dari perumpamaan tentang lalang dan gandum. Kalau Yesus menjelaskan bahwa ladang adalah dunia (ay.38), maka dalam perumpamaan tentang pukat, lautan adalah dunia, serta pukat adalah Gereja. Sama seperti pukat harus ditebarkan ke tempat yang dalam, maka Gereja harus juga mewartakan Kristus ke tempat yang dalam atau Duc in Altum. Dan setelah penuh, maka pukat tersebut diseret ke pantai dan orang-orang kemudian memilih ikan yang baik dan membuang ikan yang tidak baik. Ini menggambarkan tentang akhir zaman, di mana para malaikat akan memisahkan manusia yang baik dari ikan yang tidak baik.  Dan bagi orang yang jahat akan mendapatkan ganjarannya di dalam neraka (ay.50).

Perumpamaan ini juga menceritakan bahwa di dalam pukat tertangkap ikan yang baik dan yang tidak baik, sama seperti di dalam Gereja terdiri dari orang kudus dan pendosa. Meski demikian Katekismus Gereja Katolik (KGK, 867) menuliskannya sebagai berikut: Gereja adalah kudus: Roh Kudus adalah asalnya; Kristus, Mempelainya, telah menyerahkan Diri untuknya, untuk menguduskannya; Roh kekudusan menghidupkannya. Memang orang berdosa juga termasuk di dalamnya, tetapi ia [Gereja] adalah “yang tak berdosa, yang terdiri dari orang-orang berdosa”. Dalam orang-orang kudusnya terpancar kekudusannya; di dalam Maria ia sudah kudus secara sempurna.

 

Makna bagi kehidupan iman dan menggereja kita

Melalui dua perumpamaan ini apabila dilihat secara lebih mendalam maka kita dapat semakin memahami hakekat Kerajaan Sorga. Yaitu bukan soal tempat dimana kita akan menuju. Namun Keajaan Sorga justru digambarkan sebagai Gereja. Dari kedua perumpamaan itu baik perumpamaan mengenai ilalang maupun perumpamaan mengenai pukat keduanya dapat kita tarik relevansinya dalam kehidupan menggereja kita. Digambarkan di dalam perumpamaan-perumpamaan itu bahwa Gereja tidak saja menjadi tempat bagi segala kebaikan, bahwa Gereja bukanlah komunitas untuk orang suci saja atau orang yang hidupnya di dalam rahmat. Namun di dalam komunitas Gereja itu nampak pula bergabung pribari-pribadi yang memiliki kelemahan. Pribadi-pribadi yang berdosa bahkan banyak dosanya, namun semuany baik manusia yang suci maupun yang berdosa bergabung untuk membentuk komunitas Gerejawi.

Sehingga dengan demikian kita diajarkan mengenai salah satu gambaran dari Kerajaan Sorga. Bagaimanapun juga Kerajaan Sorga seperti yang diwartakan Yesus merupakan suatu misteri yang besar, dimana sampai kapanpun manusia akan sulit untuk memahami kepenuhan dari misteri itu, selalu akan ada sesuatu misteri yang belum terungkap. Maka perumpamaan mengenai ilalang dan pukat ini sebenarnya menjadi salah satu usaha untuk memahami misteri Kerajaan Sorga itu. Kita ingin belajar untuk memahami salah satu unsur dari Kerajaan Sorga. Yaitu Kerajaan Sorga yang juga hadir di dalam kehidupan menggereja yang selama ini kita jalani.

Sehingga dalam kehidupan menggereja secara umum kita diajak untuk semakin menghayati sebagai suatu komunitas yang bersama-sama mengarahkan diri kepada kebaikan. Kita sadar bahwa sebagai anggota Gereja kita memiliki banyak kelemahan. Kita masih sering tergoda untuk mengikuti hawa nafsu dan egoisme kita sebagai manusia maka dengan demikian renungan hari ini mengajak kita untuk semakin menyadari akan tugas kita sebagai anggota Gereja yaitu untuk hidup sesuai dengan ajaran Yesus. Dengan semakin setia akan kepada ajaran Yesus itu maka Kerajaan Sorga semakin akan mejadi kenyataan.

Setiap kesalahan dan dosa yang dilakukan oleh manusia tidka menjadi penghalang untuk mewujudkan suatu kominutas Gerejawi. Namun komunitas Gerejawi itu justru menjadi wadah bagi setiap orang untuk semakin mengerti dan mengarahkan diri kepada kesucian diri. Dengan bergabung di dalam komunitas Gerejawi ini manusia diajak untuk semakin menyadari akan tugas perutusannya di dunia. Dimana manusia diutus untuk mampu mengalahkan setiap kecenderungan manusiawi di dalam hidupnya yaitu setiap dosa yang dilakukannya dan mengarahkan diri menuju kepada kesucian. Sehingga dalam hal ini setiap tindakan dan usaha yang dilakukan manusia di dalam komunitas Gerejawi sebenarnya merupakan usaha untuk menghadirkan Kerajaan Sorga di tengah dunia. Apabila manusia semakin mengarahkan diri kepada kebaikan dan mengalahkan kejahatan di dalam pribadinya maka dengan demikian manusia akan mampu mewujudkan suatu komunitas Gerejawi yang semakin kudus dan suci.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s