Venerdi Santo

Venerdi Santo – Good Friday – Jumat Agung.

Pada hari ini kita memiliki tiga salib untuk dipandang di atas bukit Golgota.

Salib pertama. Salib Yesus Kristus

Salib Yesus Kristus : besar, masih segar dengan darah bercecer pada kayun dan keringat-Nya yang mebasahi. Pada salib ini ada Yesus, orang yang tidak bersalah, yang dihukum mati karena iri hati, kedengkian, ketidakpecayaan….

Yesusjpun tidak ingin penderitaan, kesedihan, sakit, kematian. Selama hidup-Nya Dia berusaha menghilangkan itu semua. Dia membantu orang buta agar bisa melihat, member makan 5000 orang, melipatgandakan anggur, menyembuhkan orang lumpuh, mengampuni orang berdosa…bahkan membangkitkan orang mati!!!

Dengan kedatangan-Nya, Dia mengajar orang untuk saling mengasihi, saling melayani.. agar KEHIDUPAN sebagai tanda kedatangan Kerajaan Allah bisa benar-benar menjadi nyata.

Namun..

Dia sendirilah ORANG PERTAMA yang harus menghidupi ajaran-ajaran-Nya. Sangat sulit untuk melayani, mengasihi dan mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita, maka Ia pun memberikan contoh : Inilah ajaran kehidupan yang dating dari salib. Inilah Salib pertama, salib Tuhan kita Yesus Kristus.

Salib Kedua. Salib penyamun yang bertobat.

Salib kedua, salib penyamun yang bertobat, yang menyesali segala kelalaian dan dosa di masa lalu, yang menyadari bahwa “memang” dia patut mendapat hukuman karena setimpal dengan apa yang diperbuatnya. Kita ingat “Mata ganti mata, gigi ganti gigi.”

Orang yang tersalib ini SADAR bahwa kesalahan dan kejahatan yang diperbuatnya yang telah merugikan orang lain suatu saat akan mendapat hukuman. Ketika berhadapan dengan salib Kristus, penyamun pada salib kedua berani untuk MEMOHON AMPUN dan MENYADARI bahwa Salib Kristus itu adalah tak pantas bagi Yesus. Dia – Yesus – tidak berbuat satupun kesalahan, namun mengapa mereka – orang Yahudi – menghukum-Nya?

Satu hal yang bisa kita pelajari dari salib kedua ini : Salib ini BERSEDIA untuk BERDAMAI dengan dirinya, dengan Yesus. Penyamun itu dengan RENDAH HATI meminta Yesus untuk menerima dirinya apa adanya di dalam Kerajaan-NYa.

Kerendahan hati untuk mengakui kesalahan pribadi dan kebenaran Kristus, merupakan tanda kedewasaandalam iman. Maka salib kedua pun bercahaya, karena menerima Kristus dalam dirinyha.

Salib Ketiga, Salib penyamun yang memberontak.

Salib ketiga, adalah salib penyamun yang memberontak, yang tidak mau menerima kesalahan dan dosa yang diperbuatnya, yang masih dipenuhi dan hidup dalam semangat dendam, iri hati, tidak mau tersaingi, perkataan kasar, egoism, dan tidak bisa berbelarasa dengan orang lain. Salib ini BERUSAHA untuk MENGHINDAR dan MENJAUH dari Salib Kristus. Dia tidak mau menerima kenyataan, berupaya untuk terus menghindar dan tidak menerima diri sendiri. Dia selalu tidak puas, selalu lapar dan haus akan keinginan-keinginan yang tidak teratur, masih mencari-cari di dalam dunia dan mementingkan ego pribadi.

Oleh sebab itu, salib ini berwarna agak suram, karena tidak memiliki kerendahan hati untuk diterangi oleh Yesus Kristus, oleh salib dan kebangkitannya. Kita melihat, di sini seorang penyamun yang menderita namun tidak mau ditolong oleh kesaksian akan hidup Yesus.

vernedi

Memeriksa Diri.

Kalau kita mellihat ketiga salib ini, sebetulnya jarak antara salib yang bercahaya ke salibKristus, dan jarak antara salib yang suram ke salib Yesus; adalah SAMA. Salib Kristus persis ada di tengah-tengah mereka.

Salib yang ada di samping kiri dan kanan salib Kristus adalah symbol-simbol dalam kehidupan kita, kehidupan masyarakat dan pribadi kita tentang bagaimana diri kita menuju Golgota –  memanggul salib kita masing-masing.

Dua sisi kehidupan.

Ada orang yang hidup menderita – menderita dalam kemiskinan – menderita dalam pelayanan – ditolak – dianiaya – dihujani iri dan dengki – difitnah … namun mereka sadar bahwa Kristus ada bersama mereka – bersama-sama memanggul salib kehidupan mereka.

Ada orang terus-menerus memberontak dalam kesesakkan – merasa Allah tidak menyertai mereka – merasa Tuhan tidak adil – merasa Tuhan tidak mendengarkan doa-doa – merasa Tuhan terlambat …

Ditulis secara khusus oleh Pastor Alfonsus Widhi, SX untuk kita semua.

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s