PERCAYA SAJA

Kamis, 28 Maret 2013
Hari Kamis dalam Pekan Suci (Pagi)
Pagi: Luk 4:16-21

“Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”

Luk 4:21b

Ternyata apa yang terjadi hari itu di rumah ibadat, di Nazareth, sudah dituliskan sejak jaman Nabi Yesaya. Yesus bertindak sebagai utrusan Allah yang penuh dengan Roh Tuhan mengajar semua orang, menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan bagi orang-orang buta, membebaskan orang-orang yang tertindas, memberitakan tahun rahmat Tuhan teoah datang. Hari itu Yesus menggenapi apa yang pernah ditulis, diramalkan oleh Nabi Yesaya. Orang-orang Yahudi percaya bahwa Mesias diramalkan akan datang sebagai Juruselamat. Tanda-tanda kelahiran-Nya juga sudah dituliskan jauh sebelum kelahiran Yesus, dan menjadi kenyataan pada waktu Yesus lahir.

percayaKamis malam sebelum ditangkap, la diadili, didera dan disalibkan, Yesus sudah mengetahui akan penderitaan-Nya. Hingga Ia mengucurkan keringat dan darah ketika membayangkan apa yang akan dialami-Nya. Ia berdoa di Taman Getsemani, mohon Bapa melewatkan cawan penderitaan yang harus diregukanya, tetapi tetap menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Esok hari terjadi sungguh apa yang telah diketahui Yesus. Begitu juga segala sesuatu sebelum dan sesudah Jumat sengsara, telah pernah diberitakan dan menjadi kenyataan pada waktunya. Ini semua adalah rencana Allah yang Mahakuasa.

Kalau kehidupan Yesus ada di dalam rencana Allah, apakh kehidupan kita juga demikian? Apakah sebelum kita lahir hingga hari kematian kita, sepertinya telah ‘dituliskan’ semuanya dan ada dalam rencana Allah? Kita tidak tahu. Namun sebagai orang beriman, kita percaya bahwa keberadaan kita di dunia ini dengan segala macam peristiwanya adalah bagian dari Rencana Allah. Sebagian orang menyatakan sebagai : “Tidak ada yang serba kebetulan di dunia ini, semua terjadi karena sesuatu sebab untuk maksud yang saling berkait-kaitan dengan kehidupan yang lebih luas dan lebih besar.”

Bedanya, Yesus sebagai Anak Allah, mengetahui rencana Allah sebelum kejadiannya; sedangkan kita tidak mempunyai kemampuan seperti itu.

Memang, ada beberapa orang yang dikaruniakan ‘sedikit’ pengelihatan akan masa depan, yang mampu menceritakan apa yang akan terjadi. Tetapi kemampuan merekja sangat terbatas, karena merka tidak dapat mengerti seluruh rencana Allah untuk setiap orang daris egala jaman dan semua tempat di dunia.

Lalu, bagaimanakah kita mengambil sikap dalam menjalani kehidupan kita bersama-sama dengan semua ciptaan Tuhan yang lain? Yang terbaik ialah:

  1. Teguh dalam beriman. Kita percaya Allah merencanakan yang terbaik bagi keselamatan manusia yang lebih besar. Kita tawakal dalam pencobaan hidup dan penderitaan serta tetap berpengharapan, karena ketika berakhir, perguimulan kita sebelumnya dapat membuat kita menjadi lebih kuat, lebih berpengalaman, lebih bijak dan lebih mampu berbelarasa pada mereka yang menderita.
  2. Perlu saling tolong menolong dengan sesama yang lain sebagai saudara, karena ini akan meringankan beban penderitaan dan bukti bahwa kasih itu nyata. Jangan lupa, kita pun membutuhkan pertolongan orang lain ketika kita susuah.
  3. Tumbuhkan belarasa dalam melihat penderitaan, bukan sebagai kutukan atau pembalasan, tetapi sebagai sarana untuk kebangkitan dan keselamatan.

Ada baiknya jika kita tidak mampu melihat apa yang akan terjadi di masa depan, kecuali yang bisa diperhitungkan dengan logika. Sehingga kalau itu menjadi suatu kegembiraan, kita akan sungguh menikmati rasa gembira itu pada waktunya. Kalau itu kesedihan, kita tidak perlu merasa terlalu lelah untuk bersedih di jauh hari sebelum kejadian. Ketidaktahuan kita tentang masa depan justru menjadi pendorong kita untuk melakukan usaha yang terbaik yang bisa kita lakukan. Jadi, pilih dan lakukan yang terbaik, dan percaya saja.

Pertanyaan reflektif:

  • Apakah saya masih sering kecewa, memberontak, dan marah kepada Tuhan jika saya ternyata tidak selalu sesuai dengan apa yang saya rencanakan, harapkan, dan upayakan?
  • Sejauh mana saya mampu berdamai dengan kenyataan dan teteap memelihara iman saya kepada kebaikan Allah?

Doa

Yesus… Engkau rela menderita sengsara dan mati disalib untuk menebus dosa-dosa umat manusia. Engkau taat melakukan kehendak Bapa. AKu mau belajar daripada-Mu, dalam menjalani hidup yang kadang berat dan penuh pencobaan. Karena sengsara dan wafat-Mu diikuti dengan kebangkitan dan suka cita serta keselamatan. Jagailah aku supaya tetap beriman kepada Allah, bersaudara dengan sesama dan mampu berbelarasa dengan mereka yang menderita. Karena Engkaulah Roti yang Hidup, Penebus dan Juruselamat kami. Amin

~Shienta D Aswin – dalam Retret Agung Umat – Perjalanan Rohani menanti Kebangkitan ~

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s