Ia menyerahkan diri-Nya bagi kita

Kamis, 28 Maret 2013
Kamis Putih (Sore)
Sore: Yoh 13:1-15

Dalam perayaan liturgi Kamis Putih, kita merayakan dan menyaksikan dua tindakan Yesus yang mengungkapkan bagaimana Ia menyerahkan diri-Nya seutuh-utuhnya bagi kita.

Pertama: Ia menyerahkan diri-Nya sebagai pelayan, sebagai hamba

bsuh kakiiDalam injil hari ini, kita mendengar bagaimana Yesus bertindak sebagai pelayan, bahkan sebagai budak. Ia mencuci kaki murid-murid-Nya.

Membasuh kaki adalah pekerjaan budak-budak. Ia rela memperbudak diri demi pengabdian kasih yang iklas. Jadi tekanan dalam gambaran peristiwa ini bukannya “Yang besar harus mengabdi yang kecil” tetap bahwa “Yang besar rela menjadi kecil,” untuk kepentingan semua. Dengan demikian, pembasuhan kaki menjadi tanda penyelamatan, karena Tuhan yang Agung rela menjadi terkecil.

Tuhan telah menyerahkan diri-Nya bagi kita dengan cara yang tidak dapat kita bayangkan. Tuhan menjadi budak bagi manusia.

Makna :

Sesudah Yesus membasuh kaki para murid, Ia berkata,”Mengertikah kamu apa yang telah kuperbuat kepadamu? Kamu menyhebut Aku guru dan Tuhan, dan katamu tepat, sebab memang Akulah guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku adalah Tuhan dan gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah  memberi suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga merbuat sama seperti yang Aku perbuat kepadamu.”

Kedua : Ia menyerahkan diri-Nya dalam Ekaristi.

Pada Perjamuan Malam Terakhir itu Ia mengambil roti, mengucap syukur lalu membagi-bagikannya kepada murid-muridNya dan berkata,”AMbillah, dan makanlah. Inilah Tubuh-Ku yang Kuserahkan bagimu.” Sesudah itu Ia mengambil piala anggur, mengucap syukur lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata,”Inilah darah-Ku, Darah perjanjian baru yang kekal yang ditumpahkan bagi banyak orang.”

Dengan kata-kata tersebut, Yesus menyerahkan diri-Nya seutuh-utuhnya bagi kita. Penyerahan diri secara tuntas akan dilaksanakan-Nya di atas salib.

Makna :

Memberi, menyerahkan diri, rupanya adalah sesuatu yang Ilahi. Muder Teresa dari Kalkuta pernah berkata : Kalau seseorang bertanya kepadamu siapakah Tuhan itu, berikan ia sepotong roti dan katakanlah, Inilah Dia.

Pertanyaan:

  • Apakah kita sungguh menghayati peristiwa pembasuhan kaki dan Ekaristi dalam kehidupan kita?
  • Seberapa jauh kita sudah sanggup memberikan milik dan diri kita bagi orang lain?

Refleksi:

Kalau kita belum terbiasa untuk memberikan diri kita dan apa yang kta miliki untuk orang lain, itu berarti bahwa Perayaan Ekaristi yang kita lakukan setiap saat belum sangat bermakna. Ia baru sebatas upacara tanpa makna!

Merayakan peristiwa Pemecahan dan penyerahakn roti berarti kita sendiri diubah semangatnya untuk selalu bisa memecahkan dan menyerahkan diri dan milik sendiri untuk orang lain. Kalau tidak, APALAH ARTINYA MERAYAKAN EKARISTI, KALAU KITA TETAP EGOIS DAN MENGINGAT DIRI SENDIRI !!

Seorang egois sebenarnya tidak mungkin merayakan Ekaristi secata bermakna. Ekaristi selalu mempunyai implikasi kerelaan dan senantiasa membagi diri kita, membagi milik kita dan menyerahkannya untuk orang lain, sehingga orang lain turut diperkaya, diselamatkan , dan dibebaskan.

Seorang yang senantiasa memberi diri dan miliknya ia tak akan jatuh miskin, tetapi akan diperkaya dan menghasilkan banyak buah.

~ Rm Yosef Lalu, Pr – Komisi Kateketik KWI – dalam homili Kamis Putih tahun C ~

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s