Cinta yang luar biasa !!!

Minggu, 24 Maret 2013
Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan
Luk 22:14-23; 56

“Inilah tubuhKu yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Luk 22:19

Kasih sejati adalah bila seseorang rela mengorbankan dirinya, hidupnya sendiri, tanpa pamrih, demi kebahagiaan orang lain. Yesus mengatakan, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15:13). Ibarat satu biji gandum yang jatuh ke tanah, lalu hancur dan mati, ia akan menghasilkan banyak buah. “Barang siapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang siapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk kehidupan yang kekal.” (Yoh 12:24-25).

Yesus-naik-keledai

Apa yang dikatakan-Nya itu, Ia mewujudkan pada waktu perjamuan Paskah terakhir, bersama para murid menjelang saat kematian-Nya. Malam itu, dalam Perjamuan Kudus, Yesus mengambil roti, mengucap syukur dan memecah-mecahkannya dan memberikan roti itu kepada mereka, kata-Nya,” Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagimu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Demikian juga dilakukanNya dengan cawan sesudah makan, Ia berkata,” Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.” (Luk 22:19-20). Yesus, Anak Allah (penuh kuasa), menjadi manusia biasa (hina), rela menderita sengsara, mengorbankan nyawa-Nya, mati di salib, dan bangkit untuk menyatakan cinta-Nya sehabis-habisnya demi keselamatan umat manusia. Inilah wujud cinta kasih yang luar biasa.

Pengorbanan diri Yesus, yang dinyatakan dalam Perjamuan Kudus, yang menjadi sumber dan puncak iman umat Kristiani, hendaknya mampu menumbuhkembangkan persaudaraan sejati antar sesama umat beragama dalam mayarakat dan dapat menghasilkan belarasa sejati, berupa buah-buah pelayanan kasih, kegotongroyongan, saling tolong-menolong untuk menanggung beban hidup sesama tanpa pamrih dan pilih kasih. Orang rela berbagi milik, beramal dan bersedekah kepada sesama, terutama kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan disabilitas. Namun kasih sejati tidak hanya cukup berbagi harta dan tenaga, bila perlu turut berkorban dan menderita jiwa raga untuk menyelamatkan hidup orang banyak.

Pertanyaan reflektif:

  • Apakah selama ini saya sudah menerima Komuni Kudus dengan layak dan pantas?
  • Dengan rasa syukur dan hikmat serta cinta yang dalam seperti Tuhan yang sedemikian dalam mencintai kita?

Doa

Ya Tuhan Yesus Kristus, ajarilah kami Bahsa cinta-Mu dalam kehidupan kami sehari-hari, terutama di dalam pergaulan dengan orang-orang yang miskin dan menderita, dengan mereka yang kami benci dan tidak kami sukai. Amin

~I Maisya Suryataruna – dalam Retret Agung Umat – Perjalanan Rohani Menuju Kebangkitan ~

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s