Jabatan sebagai sarana berbelarasa

Senin, 18 Maret 2013
Dan 13:1-9; 15-17; 19-30; 33-62.
Yoh 8 :1-11

“Hai engkau yang sudah berubah dalam kejahatan, sekarang engkau tertimpa dosa-dosa yang dahulu telah kau perbuat dengan menjatuhkan keputusan-keputusan yang tidak adil, dengan menghukum orang yang tidak bersalah dan melepaskan orang-orang yang bersalah meskipun Tuhan telah berfirman: Orang yang tak bersalah dan orang benar jangan kau bunuh…:

Dan 13:52-52

Berulangkali terdengar keluh kesah tentang penyesalan terhadap figure negeri ini. Kita memilih pemimpin itu melalui pemilu.  Nyatanya, mereka memiliki kinerja yang jauh dari harapan. Bukan hanya lemah dalam komitmen untuk berpihak pada rakyat, tetapi justru perilaku mereka mencederai kepercayaan. Figur pemimpin ini lekat dengan gambaran: senang menghamburkan uang rakyat dengan dalih studi banding, mengkorupsi uang negara di balik pembahasan proyek-proyek, dll. Wajar jikalau kita kesal, menyesal telah memilih mereka ini.

Kisah tentang perilaku pemimpin yang gemar menodai mandate dan amanat rakyat sudah terjadi pada jaman Daniel. Rakyat Israel, sebagaimana kita bada dalam Kitab Tambahan Daniel 13 memilih dua orang di antara mereka sebagai pemimpin. Mereka menyebutnya sebagai tua-tua. Tua-tua ini mendapat mandate untuk mengadili dan memutuskan perkara moral, termasuk perkara-perkara kesusilaan.

Sayang, dua orang tua-tua ini dengan sengaja menyelewengkan kedudukan mereka. Mereka memprakarsai rencana jahat untuk menjebak Susana.Susana, perempuan yang cantik dan saleh istri Yoyakim dijebak dalam permainan mereka, melayani nafsu bejat mereka atau dijatuhi tuduhan melakukan perbuatan zinah.

danPenghakiman terhadap Susana yang tidak adil ini memunculkan tokoh baru, Daniel. Daniel adalah orang yang menelanjangi kebusukkan dua tua-tua ini. Daniel berani  bersikap kritis melawan kebiasaan rakyat yang serba percaya, dan serba menurut apa yang dikatakan pemimpin. Berkat Daniel, terbukalah mata rakyat, Susana adalah perempuan yang saleh dan benar. Sedangkan dua orang tua-tua itu ternyata pemimpin yang berhati busuk.

Kisah ini mengingatkan kita untuk bersikap kritis dan berani memberikan koreksi terhadap pemimpin yang kita pilih. Sering kita berpikir, mereka berjuang untuk kepentingan rakyat. Tetapi pengalaman membuktikan ada banyak pemimpin yang baik berubah menjadi pemimpin yang lalim dan korip. Peluang menjadi lalim dan korup akan semakin berkurang, apabila rakyat berani memberikan pengawasan.

Sebnaliknya, jika anda dipercaya untuk menjadi pemimpin, berbuatlah sesuatu seperti Daniel, adil dan bijaksana. Sebagfai pemimpin, anda mendapatkan jalan lebih banyak untuk mewujudkan belarasa Allah terhadap manusia.

Pertanyaan refleksi:

Sudahkan anda menggunakan wewenag anda sebagai jalan berbelarasa bagi sesama?

Doa

Ya Tuhan… ajarilah kami memiliki sikap rendah hati dengan menjauhkan diri dari sikap senang menghakimi orang-orang yang sedang jatuh dalam kesusahan. Semoga kami lebih peka melihat kebutuhan orang-orang lain dan dapat memberikan bantuan yang tepat sesuai dengan kemampuan kami. Amin.

~ML Supama – Retret Agung Umat – Perjalanan Rohani menanti kebangkitan~

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s