ENGGAN BERDIRI DI MUKA KAMAR PENGAKUAN

MInggu, 10 Maret 2013
Hari Minggu Prapaskah IV
Luk 15:1-3, 11-32

“Ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersuka cita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan da dapat kembali. Maka mulailah mereka bersuka cita.”

Luk 15:23-24

confession-chamber-3Bagi mereka yang segan melakukan pengakuan dosa di hari-hari biasa, terutama anak-anak muda – biasanya mereka juga enggan jika harus antri di muka kamar pengakuan dosa menjelang hari raya Natal atau Paskah. Terlebih jika mereka termasuk pengaku dosa minimalis yang lebih berpegang pada perintah Gereja: mengaku dosa sekurang-kurangnya satu kali setahun.

 Apa alasannya tidak akan kita bahas karena yang penting adalah cara mengatasi rasa segan, malu dan tertekan saat ada di muka kamar pengakuan.

 Lukas Bab 15 di mulai dengan mengisahkan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang bersungut-sungut ketika melihat Yesus bersama pemungut cukai dan prang-orang berdosa yang ingin mendengarkan Dia. Kemudian ayat 11-32 berkisah tentang pulangnya anak bungsu ke pangkuan ayahnya dengan sesal mendalam atas dosa-dosanya yang telah diperbuatnya. Sang ayah mengira anaknya telah mati, telah hilang, menyambutnya kembali dengan sukacita dalam suatu pesta. Di dalam bab yang sama, Yesus juga mengisahkan tentang domba dan dirham yang hilang yang ditemukan kembali. Si pemilik dengan penuh sukacita mengajak orang-orang ikut bergembira.

 Perumpamaan tentang kegembiraan atas kembalinya domba, uang dan anak, merujuk tentang betapa besar bahagia Allah atas kembalinya orang berdosa sebagaimana sabdaNya :”Aku berkata kepadamu, demikian juga aka nada sukacita di antara malaikat-malaikat Allah atas seorang berdosa yang bertobat.” (Luk 15:10).

 Itulah bukti bagaimana Allah begitu mengasihi manusia, rindu menantikan mereka yang “hilang” agar segerea kembali ke pangkuan Gereja. Ia bukan mencari mereka yang tidak mempunyai masalah dosa, melainkan mencari mereka yang berdosa. Maka jika Allah begitu berbelarasa dengan mereka yang berdosa, kitapun wajib berbuat sama. Jangan pernah bersungut-sungut, bersikap menghakimi dan menjauhi mereka seperti halnya orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Tetapi berbelarasalah, bersama-sama antri di muka kamar pengakuan dangan rendah hati dan tulus.

Pertanyaan reflektif:

Membayangkan bagaimana besar kerinduan dan sukacita Allah bersama para malaikat-Nya ketika kita datang mengakuai dosa dengan penuh sesal, masihkah kita merasa berat hati dan enggan berdiri di muka kamar pengakuan?

Doa:

Ya Tuhan, anugrahilah kami kemampuan untuk memahami kasih-Mu sehingga dalam pengakuan doasa yang dipenuhi sesal dan tobat, kami percfaya bahwa Kau hadir di sana dengan penuh sukacita. Amin.

– Maria A Sardjono – Dalam Retret Agung Umat – Perjalanan Rohani menanti kebangkitan.

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s