SEMAKIN BERIMAN dengan INTROSPEKSI DIRI

Sabtu, 9 Maret 2013
Luk 18 : 9-14

“Sebab barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Luk 18:14b

 Salah satu upaya mengembangkan kedewasaan iman adalah dengan melakukan instropeksi agar seseorang mampu menilai dirinya secara oebjketif. Objekstivitas itu penting, mengingat penilaian orang terhadap diri sendiri kurang akurat karena besanya unsur subjektivitas. Begitupun jika penilaian itu dibuat melalui kacamata orang lain, sebab acap kali penilai orang terhadap kita hanya terbatas pada apa yang mereka lihat dipermukaan. Kalaupun tidak, biasanya mereka segan berkata jujur. Tidak jarang pula hanya sebagai basa-basi belaka. Padahal, kejujuran itu penting sebagai masukkan.

Sudah barang tentu kedua penilaian yang kurang akurat itu mengandung resiko. Orang bisa saja menganggap dirinya paling penting, berjasa, layak dihormati, pantas menjadi pemimpin dan lain sebagainya. Persis seperti orang Farisi yang menilai dirinya tinggi karena telah banyak melakukan hal-hal baik sehingga dalam berdoapun merasa berhak menerima karunia (baca : upah) Tuhan. Tidak seperti pemungut culai yang menurutnya penuh dosa dan hina. Di lain pihak, si pemungut cukai yang menganggap dirinya amat berdosa, berdiri jauh-jauh, takut menatap langit untuk berdoa. Seakan lupa betapa mahapengampun dan maharahimnya Tuhan kepada mereka yang membuka hati terhadap pertobatan mendalam.

tunjukKisah di atas menunjukkan betapa sering kita memakai rujukan subjektif untuk menilai diri sendiri maupun sesamma dengan kecenderungan menghakimi termasuk menghakimi diri sendiri sampai-sampai menjauh dari Gereja karena menganggap penuh dosa, kotor dan rendah.

Dalam masa Prapaskah ini, marilah kita memakai kesempatan yang ada untuk bersih-bersih hati kita dengan melakukan introspeksi diri melalui berbagai sudut pandang secara obejektif sebagai upaya pendewasaan iman. Rendah hati itu bagus, tetapi jangan berendah diri karena bisa membauri penilaian objektif terhadap diri kita sendiri.

Pertanyaan reflektif:

Apakah karya dan perbuatan baik kita selama ini sungguh tulus, bukan untuk mencari upah Tuhan, dan bukan untuk mendapat pujian banyak orang, bukan pula untuk menutupi dosa dengan mengabaikan tolok ukur yang objektif?

Doa

Allah Mahabenar.. berilah kami kemampuan untuk mengembangkan iman yang bernar dan tulus tanpa pamrih sehingga setiap perkataan dan perbuatan kami selalu dilandari kasih kepada sesama sehingga kami selalu siap berbelarasa. Amin.

~Maria A Sardjono – Retret Agung Umat – Perjalanan Rohani menanti kebangkitan ~

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s