Mencintai Allah

Rabu, 6 Maret 2013Mat 5:17-19

“Aku datang bukan untuk meniadakan, melainkan untuk menggenapinya.”Mat 5:17b

Hukum tauran Musa yang terumuskan dalam “Sepuluh perintah Allah” secara singkat menunjuk pada mencintai Allah melalui keutuhan alam ciptaan-Nya.

Mencintai berarti mengalirkan dan menyentuhkan ‘rasa’ Allah yang ada dalam diri manusia kepada seluruh ciptaan-Nya.

Kedatangan Yesus merupakan penggenapan akan hukum cinta ini, yang terlukiskan dalam hukum cinta kasih dari Betlehem sampai Yerusalem. Yesus memperagakan dan sekaligus mengajarkan bagaimana cara mencintai Allah dengan berpihak dan terlibat dalam seluruh dimensi pergulatan hidup manusia.

Peritiwa kasih Allah dari Betlehem ke Yerusalem adalah penggenapan Yesus atas Hukum Taurat Musa. Peritiwa ‘sabda’ menjadi ‘daging’, karena dalam kedagingan Yesus, ‘Sabda’ telah diragakan dan diperagakan dengan amat indah oleh Yesus bagi Allah.

Dunia yang pernah dihidupi oleh Yesus, sekarang adalah tempat kita tinggal dan hidup. Bagaimana cara kita tinggal dan bagaimana cara kita hidup, menjadi bahan refleksi kita yang mengaku sebagai murud-murid Kristus.

Apakah cara tinggal dan cara hidup kita di’setir’ oleh cara dunia bekerja?

Cara dunia bekerja kerap kali berseberangan dengan cara hidup Allah yang telah diperagakan oleh Yesus. Barang-barang duniawi, kemewahan, uang, kekuasaan, kedudukan, kemegahan ditawarkan dunia untuk menjadi tujuan. Dengan bekerja manusia berlomba untuk meraihnya. Bekerja bukan lagi sebagai ekspresi dan perwujudan diri akan nilai-nilai yang diarahkan untuk semakin menemukan dan memuliakan Allah. Cara bekerja dunia inipun merembes dalam tata kelola hidup keluarga. Keluarga tidak lagi menjadi tempat dan sarana untuk menyentuhkan jiwa satu sama lain. Setiap pribadi disibukkan dengan dunianya. Keluarga sebagai tempat dan sarana untuk menghadirkan kasih Allah, menjelmakan sabda Allah tergantikan dengan segala dampak dari cara kerja dunia.

Dimanakah Allah diterjelmakan dalam hidup keluarga?

Refleksi

ndodok copyAllah menciptakan dunia dan segala isinya diperuntukkan bagi kelangsungan hidup manusia, dan Allah mempunyai kepentingan akan hal itu. Kepentingan Allah adalah supaya manusia selamat. Keselamatan manusia terjadi kalau cara kerja manusia seturut dengan kerjanya Allah. Dunia dan segala isinya, barang-barang dunia dimaksudkan oleh Allah sebagai alat dan sarana untuk mencintai Allah.

Doa

Allah Bapa Yang mahakasih… dunia dan segala isinya telah dikuduskan bagi-Mu oleh darahm Putra-Mu sendiri melalui sengsara, wafat dan kebangkiatn-Nya. Mampukanlah kami, agar kamipun mampu menguduskan dunia dengan segala isinya melalui pekerjaan kami sehari-hari, sehingga dunia ini menjadi tempat tinggal dan sarana bersama untuk semakin menemukan kasih-Mu di tengah-tengah dunia ini. Amin

RD Teguh Santosa – Retret Agung Umat – Perjalanan Rohani menanti kebangkitan

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s