MENJADI MANUSIAWI, BUKAN MEMILIKI

Senin, 25 Februari 2013
Luk. 6:36-38

“Berilah, maka kamu akan diberi” (Luk 6:36)

Di tengah masyarakat yang dilanda budaya konsumerisme dan semuanya serba instan, kita menyaksikan betapa menggebu-gebunya orang mengumpulkan harta kekayaan material. Dan cepat sekali ingin memiliki barang-barang produksi serba baru. Orang dinilai sebagai berhasil kalau memiliki jutaan dolar, walaupun dengan cara korupsi atau tidak membayar pajak dengan benar dan seharusnya. Memang, napsu memiliki berakar dalam diri manusia untuk tetap hidup. Namun dilupakan bahwa napsu memiliki bukan satu-satunya potensi dari kodrat manusia.

merenung

Dalam diri manusia terdapat satu potensi lagi, yaitu keinginan untuk menjadi manusiawi. Untuk menjadi semakin manusiawi orang harus berani mengosongkan diri dan tidak terikat pada barang material.

Perlulah disadari bahwa kemewahan sama buruknya dengan kmiskinan. Maka untuk semakin menjadi manusiawi, kita harus bersedia memberikan atau membantu orang lain. Dengan demikian kita memperoleh kekuatan rohani.

Santo Basilius, seorang Bapa Gereja, mengingatkan kita ketika behadapan dengan orang miskin dan dalam masa kelaparan serta malapetaka, “supaya jangan bersikap lebih kejam daripada binatang dengan mengambil dari dirinya apa yang menjadi milik bersama dan merebut bagi dirinya apa yang menjadi hak semua orang.”

Kita membantu orang lemah, miskin, kecil dan disabilitas, tidak saja untuk meringankan penderitaan mereka, akan tetapi dengabn perbuatan itu kita semakin menjadi manusiawi.

“Manusia menjadi semakin bernilai karena kenyataan dirinya sendiri daripada karena apa yang dimilikinya. Begitu pula segala sesuatu yang diperbuat orang untuk memperoleh keadilan yang penuh, persaudaraan yang lebih luas, tata cara yang lebih manusiawi dalam hubungan-hubungan sosial, lebih berharga daripada ke majuan di bidang teknologi.” (GS, 35)

Pertanyaan reflektif:

  • Apa motivasi kita selama ini ketika membantu orang miskin?
  • Manakah kebahagiaan yang kebih kita rasakan, ketika kita membeli barang mewah, atau ketika membantu irang miskin, kecil, dan lemah?

Doa:

Bapa yang Mahapengasih dan  Mahapenyanyang…

Berilah kami ketabahan agar kami mampu mempersatukan kesusahan kami dengan kesusahan kaum miskin dalam kesatuan dengan sengsara Yesus sendiri.

Berilah sinar terang kebijaksanaan-Mu agar kami makin mengenal Dikau, Allahpencipta dan demikian kami dapat membangun dunia yang lebih adik dan bersaudara.

Semua ini kami mohon dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

(RD Jacobus Tarigan)
Retret Agung Umat – Perjalanan Rohani menanti kebangkitan

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s