Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar.

Sebuah pesan yang amat penting disampaikan oleh Pastor Franco Qualizza, SX dalam homili beliau pada Misa perayaan ulang tahun St Monica Menjuahjuah tanggal 22 Sept yang lalu.

Kiranya    hanya segelintir orang yang berpenyakit tuli alias tidak dapat   mendengar, apalagi mendengarkan, dan kebanyakan dari kita memiliki   telinga atau indera pendengar yang baik dan sehat. Namun apakah kita   sungguh dapat dan mau mendengarkan sungguh-sungguh aneka macam suara,   informasi atau ajaran dst..

 

Kita diibaratkan sebagai benih.

Benih pertama:

Jatuh dipinggir jalan, lalu diinjak-injak orang dan burung di udara memakannya sampai habis.

Adalah orang yang hanya mendengarkan Sabda Allah dengan telinganya dan Sabda tersebut lewat begitu saja tanpa sempat mampir di dalam hati.

Benih kedua:

Jatuh di tanah yang berbatu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air.

Adalah orang yang mendengarkan Sabda Allah, menyimpan dalam pikirannya, lalu melupakannya segera setelah ada hal lain yang dirasa lebih penting.

Benih ketiga

Jatuh di semak berduri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati.

Adalah orang yang mendengarkan Sabda Allah, menyimpan dalam hatinya dan berusaha menumbuhkannya, namun hatinya tidak sanggup melawan kemajuan / tawaran duniawi yang terasa lebih manis bagi hidupnya.

Benih keempat

Jatuh di tanah yang baik, dan setelah berbiuah menjadi seratus kali lipat.

Adalah orang yang mendengarkan Sabda Allah dan membuka hati untuk melaksanakannya, serta mewartakannya dalam segala langkah hidupnya.

Pertanyaan untuk pribadi: Benih yang manakah kita?

Maka, penerimaan Sabda Allah adalah tergantung dari kita, si penerima.

Sebagai contoh kasus, Pastor menceritakan tetang teladan Santa Monica, sesuai dengan nama Santa pelindung gereja stasi St Monica Menjuahjuah.

====

Acapkali orang yang disayangi Tuhan juga menyandang beban berat. Begitupun halnya dengan Monika. Ia dibesarkan dalam keluarga yang kehidupan imannya kuat. Namun hatinya amat menderita karena ulah suami (Patrisius – yang adalah pegawai tinggi di Thagaste Afrika Utara). Ia (Patrisius) selalu mencemooh dan mentertawai usaha keras istrinya dalam mendidik putranta, yaitu Agustinus, supaya menjadi pemuda Kristen yang setia. Patrisius tetap kafir dan putranya mengikuti kaum bidaah. Agustinus berkawan dengan orang-orang bejat dan hidup berfoya-foya. Segala nasihat ibunya tidak digubris.

Syukurlah, Monika tidak berputus asa. Ia menggunakan segala kesempatan untuk berdoa : “Semoga Yang Maha Baik melindungi dan membimbing suami dan putraku Agustinus ke jalan yang benar.” Bertahun-tahun lamanya tidak ada tanda apapun, baru beberapa saat sebelum meninggal, Patrisius bertobat dan mminta dibaptis. Embun sejuk dari Tuhan menyelimuti hati Monika dengan kebahagiaan.

Kini masih putranya, Agustinus. Makin dewasa, cara hidup pemuda yang cerdas ini makin menggelisahkan ibunya. Selama tujuh bulan Agustinus hidup bersama seorang perempuan dan lahirlan anak mereka, Deodotus. Ibunya yang binggung itu lalu minta bantuan seorang Uskup. “Percayalah, ibu, begitu banyak memeras air mata, tak mungkin Tuhan membiarkan anak itu celaka,” demikian hiburan dan nasehat Uskup itu kepada Monika.

Nasehat pelipur hati itu ternyata tidak dapat menetramkan hati Monika, lebih-lebih ketika anaknya pada umur 29 tahun meninggalkan ibunya berlayar ke Italia.  Monika sedih. Ia tidak tega, akhirnya menyusul anaknya ke Italia. Ia terus menyertai anaknya baik di Roma maupun di Milano. DI Milano inilah Monika berkenalan dengan baik dengan Uskup S. Ambrosius. Usaha Monika tidak sia-sia, akhirnya Agustinus dipermandikan oleh Ambrosius.

Saat itulah bagi Monika merupakan puncak segala kebahagiaan dalam hidupnya. Hal ini terlukis dari kesaksian Agustinus sendiri yang menuliskan kisah mereka dalam perjalanan pulang ke Afrika.

Kami berdua terlibat dalam pembicaraan yang sangat menarik, sambil melupakan kehidupan liku-liku kehidupan di masa lampau dan menyongsong hari depan. Kami bertanya-tanya, seperti apakah kehidupan para suci di surge… Dan Akhirnya, dunia dan segala isinya ini tidak lagi menarik bagi kami. Ibu berkata, ‘Anakku, bagi ibu sudah tiada sesuatu pun di dunia ini yang memikat, Ibu tidak tahu untuk apa mesti hidup lebih lama. Sebab, segala harapan ibu di dunia ini sudah terkabul….’”demikian seperti yang dituliskan oleh Agustinus.

Lima hari kemudian Monika jatuh sakit, dan pada hari kesembilan dengan tersenyum ia menghadap Bapa.

====

Dari cerita ini ditegaskan oleh Pastor, bahwa doa yang tak kunjung putus tidak mungkin tidak mendapatkan pendengaran dari Tuhan, seperti Santa Monika, yang tetap sabar dan setia penuh pengharapan dan perjuangan untuk mewartakan Sabda Allah kepada putranya sendiri.

PR (Pekerjaan Rumah) bagi kita:

Marilah kita mencoba membersihkan hati kita dari hal-hal yang bisa menghalangi pertumbuhan iman kita. Penerimaan sabda Allah adalah tanggungjawab kita sebagai penerima. Dengan membuka telinga dan menyediakan diri kita agar hati kita siap dan mau menerima sabda Allah.

Amin.

Bacaan:

  • 1Kor. 15:35-37,42-49;
  • Mzm. 56:10,11-12,13-14;
  • Luk. 8:4-15

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s