67 TAHUN

oleh; Pastor Ignaz,SX

Bendera dan berbagai macam asesoris yang berwarna merah putih sudah ditemukan dan diperdagangkan dimana-mana. Walaupun tidak begitu semarak, dibanyak kenda-raan sudah dipa-sangi bendera dan berbagai accessories merah dan putih. Kadang perjalanan ke stasi harus melambatkan laju kendaraan karena ada kelompok-kelompok yang sedang menjajakan tanda-tanda perhelatan Bangsa Indonesia ini. Benar kemerdekaan RI sudah daham hitungan hari.

Kembali saya menyadari kira-nya tanda-tanda menyambut kemerdekaan ini-lah yang pernah hilang dalam pengalamanku kurang lebih sepuluh tahun belakangan ini. Ketika di Chicago dan juga di Manila, perayaan akbar bangsa ini hanya kuikuti di konsulat RI atau di kedutaan RI pada hari HUTnya walaupun tidak rutin setiap tahunnya. Hal yang menyenangkan tentu bertemu dengan sesama orang Indonesia, makanan Indonesia, bicara pake bahasa Indonesia, dan acara-acara hiburan ala Indonesia. Bahkan untuk jumpa artis pun lebih gampang dari pada di Indonesia. Photo bareng Katon bagaskara dan mbak Ira Wibowo contohnya, hanya tinggal bilang dan langsung berdiri di sebelahnya tampa ada bodyguard yang menghalangi.

Lepas dari segala macam dekorasi kemerdekaan dan mudahnya jumpa artis di luar negri, tak terasa umur Negara ini sudah mencapai 67 tahun. Ditilik dari jumlahnya tahun, sudah merupakan umur yang dewasa dan sudah bisa dikatakan cukup tua untuk ukuran umur orang Indonesia. Namun pertanyaan nya, apakah kita sudah sungguh merdeka seperti yang diharapkan oleh para poklamator kita? Apakah kemerdekaan dalam berpendapat, beragama, bermasyarakat, berpolitik, berusaha dan yang lain-nya sudah terpenuhi? Apakah, apakah, dan apakah? Ternyata masih banyak hal yang bisa kita dipertanyakan yang mungkin jawabannya tidak akan bisa memuaskan kita.

Kita merasakan dan melihat suara orang kecil hampir tidak pernah di dengarkan, agama minoritas masih begitu sulitnya mendapatkan ijin untuk membangun rumah ibadahnya, orang yang berbeda agama maupun beda bentuk kulit dan sukunya masih sering tidak diterima disuatu tempat, yang tidak putra daerah tidak ada tempat dalam pemerintahan kalau ada pun paling tinggi hanya wakil kepala bagian tertentu, untuk berusaha pun kadang bisa jalan tergantung berapa besar memberikan uang aman dan siapa orang kuat dibelakang, dan banyak lagi yang lain.

Kalau di pikir-pikir dan melihat kenyataan negative yang terjadi, memang bisa membuat kita masuk dalam kelompok barisan sakit hati terutama yang pernah manjadi korban ketidak adilan. Namun 67 tahun adalah hari ulang tahun. Semua kita pantas bergembira, berbahagia, dan bersorak merdeka karena bertambah setahun lagi jumlah kemerdekaan negara kita ini.

Sebagai orang Katolik dan orang Indonesia kita harus menjadi 100% dalam keduanya seperti yang menjadi motto Mgr, Soegijapranata.  Terlepas dari kenyataan yang ada, kita harus kembali dan meng-hayati semangat para pejuang kemerdekaan yang mau berkorban bahkan jiwa dan raga demi kemerdekaan ini.  Kita harus bersatu dan bekerja sama seperti tokoh-tokoh kemerdekaan demi kebaikan dan kemerdekaan bersama. Lebih dalam dari itu, kita harus bersyukur karena kemerdekaan ini adalah rahmat dan peran serta dari Tuhan.

Pertanyaan yang akan timbul: bagaimana cara untuk menghayati, bersatu, bekerja sama, dan bersyukur atas kemerdekaan itu di jaman kita sekarang ini? Untuk menjawab pertanyaan ini saya akan menggunakan kata-kata Kardinal Yulius Darmaatmaja ketika bertemu 10 tahun yang lalu dalam kunjungan beliau di pekanbaru yaitu: “kita harus berani untuk ‘show’ sebagai orang katolik kalo tidak kita tidak akan di lihat dan di kenal”. Show dalam arti menunjukkan bahwa kita itu punya nilai lebih dalam segala bidang hidup dari pada orang lain. Sebagai pelajar kita harus menunjukkan bahwa kita bisa mempunyai nilai yang lebih dari yang lain. Kalau seorang guru kita harus bisa menjadi contoh dan teladan bagi sesame guru dan murid. Sebagai aparat kita harus menegakkan hukum tanpa pandang bulu dan tidak bisa di beli dengan uang atau kedudukan. Sebagai tokoh politik kita harus mempurjuangkan suara orang-orang kecil dan tertindas tanpa menunggu uang pelancar untuk suatu kegiatan.  Sebagai masyarakat kita harus active bersosialisasi dan terjun dalam kegiatan di masyarakat. Sebagai pengusaha menjadilah pengusaha yang jujur dan bertanggung jawab. Sebagai docter menjadilah dokter yang berdedikasi tingggi dalam tugas dan pelayanannya, dan lain sebagainya. Sebagai orang muda, jadilah orang muda yang bersemangat dan mandiri, Bahkan kalau menyumbang pun menyumbanglah dengan lebih banyak dari orang lain.

Lain kata kita harus berbuat sesuatu secara terus menerus tanpa lelah, tanpa patah semangat, tanpa menunggu orang lain, tanpa pambrih, tanpa minder, dan kalo perlu berkelahi untuk memperjuangkan mana yang menjadi hak hidup kita dan orang lain untuk keadilan dan kemerdekaan yang sejati.

Selamat berjuang, perjuangan kita belum berakhir. Marilah kita berjuang bersama sehingga kita pun merasakan kemerdekaan itu bersama-sama. MERDEKA!

Warta Paroki Edisi Agustus 2012

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s