Surat dari Parma, Italia

Parma, 1 Agustus 2012.

Tuhan dalam terangMu kami melihat cahaya.,

Para pastor dan saudara-saudari .

Tadi jam 5 pagi, saya  dibangunkan oleh SMS dari Pastor  Fernando, bahwa P. Monaci sedang  Kritis. Dan aku yakin setengah  jam kemudian bahwa, P. Monaci sudah pergi untuk selama-lamanya, oleh satu SMS yang menyusul dari orang yang merawatnya di RS. Santa Maria,  dan masih banyak lagi. Terima kasih.

Jam 7 pagi, tadi, dalam kapel para mártir, di rumah induk SX di Parma, di altar suci, kami telah mengenang pastor Monaci dalam ekaristi Kudus, bersama dengan konfrater SX.

P. Monaci, berita sudah aku sampaikan di Italia, bahwa kita akan bersama di Italia,  akhir bulan ini berjalan-jalan dalam lorong dan teras rumah kita di Tafernerio, Italia dan mendaki bukit , bahkan teman-temanmu sudah menanti, tetapi Tuhan menghendaki lain, Tuhan Yesus membawamu pergi berjalan-jalan ke Surga, dan tidak akan kembali lagi.

Tgl. 19 Juni, setelah makan siang, di labuh baru,  di depan pastoran, sebelum aku berangkat, masih kurasakan salam jabat tanganmu dengan jari-jarimu yang besar-besar itu, dan kuingat salam terakhir, sekaligus janji untuk berjumpah lagi lagi di Italia, di musim gugur.  Tetapi itu adalah salam terakhir, dan aku tidak disana ketika Engkau sedang mendaki puncak kalvari di Santa Maria.

Selesai sarapan pagi tadi, para konfrater bertanya bagi yang tidak mengenalmu, orangnya seperti apa, yang lain menjawab, bahwa kamu dikenal karena janggut dan rambutmu putih panjang  terurai, menggoda anak-anak misdinar, ketika menuangkan anggur di meja altar, untuk membelainya. Umat labuh baru mengenalmu karena kau tidak bersandal, dan sandalmu hanya satu saja, itupun lebih banyak disimpan dan diletakkan dalam plastik saja. Pada jam 12 siang engkau duduk di Gereja berdoa.

Kau sudah meninggalkan negerimu Italia, sepak bola, spagetti, anggur, bahkan lebih dari separuh hidupmu. 40 tahun di Mentawai. Kau tidak pernah mengeluh, bagaimana kau disambut, apa yang kau makan. Bahkan bagi bapak Uskup kita, uskup Padang, bahwa bagi P. Monaci semuanya adalah enak, dikatakan dalam kunjugan terakhir di labuh baru.

Engkau pun juga tidak mau ketinggalan, akan dunia modern ini,  makan kubuatkanlah bagimu juga alamat Facebook, untuk mengenal dan menyapa umatmu, bahkan mengunjungi  yang tidak pergi  ke Gereja pada hari minggu.

Betapa indah hidup sebagai saudara, seperti minyak menetesi janggut Harun, kata pemazmur. Betapa indah hidup bersamamu dan mengenalmu, P. Monaci, indah dan seputih janggutmu,  selama ini di labuh baru, dan selama hidupmu dalam keluarga kita Xaverian.

Kami bersedih, bahkan menangis karena kepergianmu untuk  selama-lamanya.  Tetapi kami juga bergembira, bersyukur bahwa Tuhan telah memberi kepada keluarga Xaverian, seorang imam, seorang gembala seperti Engkau.  Terima kasih semuanya, P. Monaci.

Segala pengabdianmu, sebagai ma-nusia dan sebagai imam sebagai misonaris, selalu ada yang kurang. Tetapi biarlah Yesus sendiri melengkapi apa yang kurang dengan kematianNya di salib.

Betapa indah rumahMu Tuhan, raja alam raya, burung pipit serta layang-layang, Dikau beri sarang.

Salam dan doa kami,

di casa Madre, Parma Italia.

P. Nattye  SX

Dibacakan dalam Misa Requirem

Tanggal 1 Agustus 2012 Di Gereja St Paulus

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s