Berjuang Tanpa Nama

Oleh Pastor Nattye, SX

Herman, adalah nama panggilannya. Dia sudah menikah secara Katolik, dan dikaruniai dua orang anak. Satu hal yang menarik dari Herman adalah, dia luwes, pandai bergaul, tidak mau berdebat, dia selalu mengalah demi kerharmonisan suatu hubungan. Dia juga adalah seorang pakar, pandai berkelakar .

Dengan melihat situasi, tetangga, kawan-kawan di kantor, Herman memutuskan tidak menonjolkan agamanya, yaitu Agama Kristen Katolik. Tujuannya adalah demi bisa menyenangkan semua orang, Islam, Protestan, Buddha, Hindu, dll. Maka Herman pun, mengikuti kawan kawannya. Di tengah kawan-kawannya yang Muslim, dia merasa tidak terikat dengan agama Katolik. Di tengah tengah agama Kristen dia merasa sama saja. Di tengah orang beragama Buddha, Herman baik sekali, karena dia tidak mau menggangu dan diganggu. Dia merasa semua agama sama saja. Maka, jelas bagi dia, tidak ada hal yang perlu diperjuangkan.  Singkatnya demi harmoni menurutnya, Herman tak menyebut agamanya, artinya dia berjuang tanpa nama.

Kunjungan pastoral Bpk Uskup kita, Mgr. Martinus D. Situmorang OFM Cap untuk tahun 2012 sudah berlalu, tetapi pesan dari Bapak Uskup tidak akan berlalu, seperti yang ditegaskan dalam kotbah penerimaan Sakramen Krisma. Bahwa dengan menerima Sakramen Krisma setiap orang Katolik, dilantik menjadi rasul, pewarta  kabar gembira, dan bukan sekedar penggembira di tengah kepungan agama-agama, kelompok menang sendiri. Dengan menerima sakramen Krisma, Gereja lewat sang gembala kita, ingin menegaskan ke-Katolik-an kita secara pribadi.  Maka, seorang Katolik yang berjuang tanpa nama seperti Herman, dia akan tenggelam. Setiap orang Katolik itu dalam perjuangannya, perlu menyadari apa yang perlu diperjuangkan dan menegaskan dirinya. Aku adalah penganut Katolik. Demikianlah salah satu cara berada kita di tengah berbagai macam agama dan kebudayaan. Maka, tanpa mengetahui agama Katolik, kita tidak bisa memperjuangkan nilai nilai keKatolikan.

Dengan sakramen Krisma, kita menegaskan sekali lagi roh Ke-Katolik-an yang   berhembus dari jiwa kita. Semuanya itu karena kita bersatu dengan Yesus.  “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku didalam dia, dia akan berbuah banyak, sebab diluar Aku kamu tidak bisa berbuat apa-apa” (Yoh15:5b). Aku adalah penganut Katolik, pengikut Yesus.

 Warta Paroki edisi Juni 2012

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s