Kemerdekaan Sejati

MERDEKA !

Kemerdekaan adalah perkataan yang besar sekali arti dan pengaruhnya. Ia berisi daya kekuasaan yang membakar jiwa. Ia mempunyai tenaga gaib yang mengobarkan semangat. Ia membuat aliran darah bisa bertambah deras, dan jantung berdebar lebih cepat.

Kemerdekaan diingini oleh setiap bangsa. Ia menjadi buah idaman setiap manusia. Ia diperjuangkan dengan sekuat tenaga.

Bangsa-bangsa bertempur mati-matian, dan banyak bunga bangsa gugur sebagai ratna. Seluruh sejarah umat manusia ditulis dengan dara, hanya karena kemerdekaan.

Banyak senjata telah dihasilkan oleh manusia sejak Kain membunuh adiknya Habel, sampai kepada zaman peluru kendali dan bom zat air. Semuanya untuk mewujudkan dan mempertahankan kemerdekaan !

Walaupun demikian, kata kemerdekaan masih merupakan suatu teka-teki bagi manusia dari zaman ke zaman. Dalam kemerdekaan yang telah dicapai oleh manusia, masih terdengar rintihan dan tangisan, masih terasa perhamba-hanbaan dan kuatir, dan dalam lubuk jiwanya setiap manusia dalam negara merdeka manapun masih saja mengeluh.

Tidak mengherankan, bahwa dalam keadaan seperti itu Kristus datang kepada kita dan bersabda : “Jikalau Anak itu memerdekakan kamu barulah kamu merdeka dengan sesungguhnya !”

Kemerdekaan yang sudah dicapai oleh setiap bangsa, juga kemerdekaan yang dimiliki oleh setiap pribadi, adalah sesuatu yang baik dan berguna, tetapi Ia tidak pernah sempurna. Ia tidak pernah melebihi suatu pakaian lama yang ditambal-sulam, yang walaupun dapat melindungi tubuh dari panas dan dingin, tetapi sebentar-bentar koyak lagi dan harus ditambal pula.

Perserikatan Bangsa Bangsa cukup lelah, dan mengeluarkan banyak biaya untuk menambal-sulam kemerdekaan bangsa-bangsa !. Tetapi walaupun sebanyak itu tambalan, sebayak itu pula terjadi koyak yang baru. Setiap orang memperhatikan hal-hal ini, mengingini sesuatu yang baru, yang dikaruniakan oleh Tuhan sendiri. Dan justru untuk itulah Kristus datang, dan bersabda : “Apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.”

Orang-orang Yahudi membanggakan kemerdekaan mereka. Bukan saja kemerdekaan sebagai bangsa, tetapi juga kemerdekaan sebagai perorangan. Mereka berkata : “Kami dalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun.”

Mereka hendak berkata : “Kami bukan budak ! Kami bukan milik orang lain ! Kami adalah orang-orang merdeka. Kami adalah Tuhan atas diri kami sendiri !”

Pada zaman itu biasa terdapat golongan manusia yang disebut budak, yaitu orang yang sudah terjual menjadi milik orang lain, karena hutang dsb. Orang-orang demikian tidak mempunyai kemerdekaan. Mereka terhitung milik dari Tuan yang membelinya.

Orang-orang Yahudi sama dengan bangsa-bangsa lainnya menganggap diri lebih tinggi, lebih berharga, karena mempunyai kemerdekaan.

Mereka membangga-banggakan kemerdekaan itu, sebagai warisan yang mereka terima daripada leluhur. Untuk itu mereka sebut-sebut nama Abraham.

Memamgn Abraham, bapak-leluhur mereka, adalah orang merdeka. Dan bukan dia saja. Ibu bapa mereka juga semuanya orang merdeka. Mereka sendiri dilahirkan sebagai orang-orang merdeka. Kemerdekaan itu mereka warisi sebagai pusaka turun-temurun. Mereka adalah anak-anak kemerdekaan. Pada tempatnya mereka bangga.

Meskipun demikian, Kristus, tetap bersabda :”Apabila Anak itu memerdekakan kamu, barulah kamupun benar merdeka.”

Dengan kata-kata ini Tuhan Yesusu hendak meneropong keadaan mereka yang sebenarnya. Ia mengupas kulit kemerdekaan yang lahir itu, dan memperlihatkan isi yang sebenarnya dari keadaan manusia. Ia hendak berkata, bahwa kemerdekaan yang merek amiliki itu bukanlah kemerdekaan yang sebenarnya. Ia bukan kemerdekaan yang sejati. Sebaliknya, ia adalah kemerdekaan palsu, kemerdekaan semu, kemerdekaan tiruan !

Nampaknya mereka merdeka, karena dapat melakukan apa yang dikehendaki, dapat membuat keputusan, dan mengambil tindakan-tindakan. Tetapi sebenarnya tidak demikian halnya. Karena kalau kulit kemerdekaan yang nampak itu dikupas, akan kelihatanlah manusia yang terikat, terbelenggu, meringkuk di bawah suatu pemerintah mutlak, suatu pemerintahan diktator yang bernama dosa.

Sejak peristiwa pemberontakan di Firdaus manusia tidak mengenal lagi arti kata kemerdekaan yang sebenarnya. Sejak kejatuhan di Firdaus itu, manusia sudah terjual, tertakluk, menjadi milik kepada kekuasaan yang bernama dosa. Sejak waktu itu manusia tidak melakukan lagi apa yang dikehendaki seperti disangkanya, melainkan ia melakukan apa yang dikehendaki oleh tuannya yang memerintah dia, yaitu dosa. Sejak itu — dan seterusnya — manusia menjadi budak, tidak lagi orang merdeka. Ia hamba yang patuh kepada kuasa dosa, bukan lagi manusia yang bebas.

Itulah pula yang dimaksud ketika Kristus berkata : “Setiap orang yang berbuat dosa, adalah budak dosa.” (ayat 34). Artinya : siapa berbuat dosa, ia bukan tuan lagi, tetapi budak !

Sebagai budak, manusia taat dan patuh terhadap segala yang diperintahkan dosa itu kepadanya. Sebagai budak, ia terikat untuk melaksanakan perintah dosa itu. Biasanya kita memanggil orang yang kita hormati : tuan. Tetapi “paduka tuan besar” ialah dosa itu !

Mengapa demikian ? Karena ia memerintahkan seluruh umat manusia. Ia memerintahkan para pembesar dan rakyat jelata. Ia memerintah raja-raja, menteri-menteri, tetapi juga kaum jembel dan orang-orang gelandangan. Ia memerintah dinegara-negara merdeka, tetapi juga di negeri-negeri jajahan.

Semua manusia adalah hamba, dan dosa itulah tuan ! Dan sebagai tuan, dosa itu memberi upah kepada segala hambanya. Apakah upah itu ? Rasul Paulus berkata : “Upah dosa ialah maut” (Roma 6:23).

Maut ! Itulah upah ! Nyata bahwa dosa itu tuan yang kejam sekali. Ia memberikan upah yang buruk sekali, yaitu kematian.

Dan kematian itu diberikannnya kepada semua orang. Tidak ada yang terkecuali. Sebab semua orang telah bekerja baginya. Semuanya telah menjadi hamba kepada dosa, dan memperoleh upah yang sama.”Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini ?”

Sadar akan hal itu Paulus berseru : “Aku manusia celaka !” (Roma 7:24). Tetapi kemudian di dalam roh ia melompat-lompat dan berkata : “Syukur kepada Allah : oleh Yesus Kristus !” (ayat 25).

Memang inilah kabar kesukaan termulia, bahwa Yesus Kristus datang melepaskan kita. Ialah satunya Manusia yang merdeka, yang datang dan berdiri di samping segala saudaranya yang terikat. Ialah “Anak itu”, yang diutus BapaNya untuk mewujudkan kemerdekaan sejati bagi umat manusia.

Di bawah terang kedatanganNya, nampaklah manusia dalam keadaannya yang sebenarnya. Dibawah terang Kristus, manusia yang selama itu menyangka dirinya merdeka dinyatakan sebagai mahluk yang malang, yang perlu dikasihani, yang tertekan, dan yang terjajah.

Tetapi bukan itu saja. Kristus tidak hanya menyingkapkan keadaan kita yang malang. Tetapi Ia menawarkan pula jasa baikNya untuk membebaskan manusia. Ia membuat itukarena belas-kasihanNya, dan karenakasih-karuniaNya.

Tuhan Yesus hendak berkata : “Hai umat manusia, sadarilah dirimu, sadarilah dirimu yang celaka. Berhentilah berbicara tentang kemerdekaan, karena engkau adalah budak yang harus ditolong !”

Dan sesudah itu Ia langsung memberikan pertolongan. Ia memberikan harga tebusan secara tuna, supaya hamba yang telah terjual ke bawah dosa itu dapat dimerdekakan sendiri. Suatu pembayaran yang mahal sekali. Namun demikian, Ia rela memberikan itu, supaya kitta terlepas.

Saudara-saudara ! Sadarkah kita akan kasih-karunia Allah ini ? Sadarkah kita akan kejatuhan kita, yang membuat kita menjadi hamba kepada dosa, sehingga Kristus tersalib ? Dan tahukah kita, bahwa salib itu sudah mewujudkan kemerdekaan kita, sehingga kta yang tadinya menjadi hamba dosa, sekarang telah menjadi anak-anak Allah ?

Barang-barang abad kita ini terlalu banyak berbicara tentang kemerdekaan. Ada hari-hari kemerdekaan yang dirayakan dengan meriah. Ada lagu-lagu kemerdekaan yang dinyanyikan dengan khidmat. Tetapi Kristus tetap berkata : ” Apabila anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka. “

Kepada bangsa yang saling memerdekakannya, Kristus bersabda : “Jangan sombong, karena kamu masih berada dalam penjajahan dosa, kamu masih perlu dimerdekakan !”

Benar sekali tanpa kemerdekaan yang dikaruniakan Kristus, kita tetap budak, walaupun kita mnyebut diri bangsa merdeka, walaupun kita sibuk merayakan hari kemerdekaan !

Tanpa kemerdekaan yang dianugerahkan Kristus, kita tetap berselisih dan berperang, kita tetap jajah-menjajah secara halus, walaupun setiap hari kita bernyanyi : satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa !

Tanpa kemerdekaan yang dianugerahkan Kristus, kita selalu menyalah gunakan kekuasaan, dan senjata tetap menjadi alat todong, walaupun kita berteriak-teriak : ke-Tuhan-an Yang Maha Esa, dan kemanusiaan yang adil dan beradab !

Saudara-saudaraku, renungkanlah semua ini. Taruhlah kemerdekaanmu dibawah kemerdekaan yang dikerjakan Kristus. Biarkanlah kemerdekaan yang dikaruniakan Kristus menjiwai segala kemerdekaan lain yang sedang kita cita-citakan, dan yang sedang kita perjuangkan.

Marialh kita memasuki pesta kemerdekaan dengan keinsyafan, dan pancangkanlah pada ambang gapura hatimu kata-kata ini : “Apabila anak itu memerdekakan aku, akupun benar-benar merdeka !”

 

MERDEKA !

 

Ignatius Nugroho

Warga Stasi Rumbai

 

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s