Kerinduan Seorang Bocah

Beberapa waktu yang lalu media cetak maupun elektronik sangat gencar memberitakan perihal undang-undang baru yang mengatur tentang sistem pendidikan nasional atau yang dikenal sebagai “Sisdiknas” yang akhirnya disahkan oleh DPR terlepas dari masih banyaknya pro dan kontra yang berkembang dalam masyarakat luas dengan berbagai argumentasi-argumentasi yang mereka kemukakan dari kelompok masing-masing.

Dari mana pendidikan itu berawal mula ? pernahkah anda mendengar kata “long life ducation”?   Manusia sejak lahir sudah terlibat dengan dunia pendidikan baik formal maupun informal yang selalu melekat pada diri setiap insan. Jadi pendidikan merupakan suatu proses yang berkesinambungan sampai akhir hayat. Pendidikan paling dini bermula dari dalam keluarga, oleh karena itu pendidikan dalam keluarga merupakan suatu hal yang penting dan mendasar bagi seorang bocah sebelum dia mengenal pendidikan formal yang diajarkan di sekolah-sekolah maupun oleh masyarakat dimana dia bertumbuh dan berinteraksi sosial dengan lingkungannya.

Semoga cuplikan kisah nyata dibawah ini bisa menambah wawasan dan pembelajaran pada diri kita serta bisa memperdalam iman kita akan ajaran-ajaran Yesus.

Kejadian itu sangat membekas dihati dan terbayang dimata, pagi itu sekitar jam 10:15 pagi, tanggal 7 Juli 2003. Kami sekeluarga akan meninggalkan kota Kediri dan kembali ke Solo. Seperti biasa kami bermohon diri/pamit ke setiap anggota keluarga yang ada. Tiba giliran berpamitan kepada kemenakan kami yang bernama Nanda, ia menangis tidak mau perpisah dengan “mama” nya. Mama disini sebenarnya untuk penyebutan pada “Bu De”, sedang untuk mama kandungnya biasa di panggil sebagai “Bunda”. Kalau kita lihat kata “Mama” dan “Bunda” sebenarnya mempunyai arti atau makna yang sama. Kesalah-kaprahan penggunaan kedua kata tersebut bukan tidak kami sengaja melainkan kesengajaan dan kesadaran kami dalam menggunakannya. Hal ini semata-mata karena kedekatan dan keakraban hubungan keluarga kami, satu dan yang lainnya saling mencintai, melindungi, dan memperhatikan, tidak terkecuali pada rasa tanggung jawab kami terhadap perkembangan dan pendidikan anak-anak.

Seorang bocah yang sedang menangis menjadi terdiam, karena dengan kelihaian seorang dewasa (Mama dan Bunda) dan bujuk rayulah akhirnya Nanda sedikit terhibur dan mau kembali bermain. Apa lantas permasalahan mereka selesai ?. Saya sebutkan permasalahan mereka dan bukan permasalahan si bocah, karena si bocah hanya mengungkapkan rasa sedih dikala saat mau berpisah karena kerinduannya, kemanjaannya belum terobati. Sebagai bocah kecil sudah barang tentu tangislah yang bisa diungkapkan dari lubuk hatinya. Kitalah yang sebenarnya bermasalah, tidak mau mengerti keinginan dan kerinduan seorang bocah. Bijaksanakah kita dalam memberikan pendidikan kepada seorang anak seperti itu ?. Seringkali kita hanya mementingkan diri kita sendiri dan mengabaikan atau menomer duakan kepentingan anak.

Ketika kami mulai menjalankan mobil, kembali seorang bocah Nanda mendekati mobil sambil berlari dan kamipun menghentikan mobil ketika melihatnya. Kali ini tangisnya lebih keras. Barangkali ia juga merasa dibohongi oleh orang yang dicintainya ? betapa menyakitkannya hal ini. Bundanya langsung mendekati si bocah dengan bujukan dan ancaman sekaligus; Ayo diam…kalau nggak mau diam Bunda akan telephone Ayah..”. Mendengar gertakan seperti itu si bocah kelihatan semakin memelas penuh kesedihan sambil memegangi mobil. Yaa, kalau kekuasaan orang tua sudah ditunjukkan seperti itu apalah yang bisa dibuat oleh anak ? dan ini sering terjadi dimana saja, kekuasaan dan kekuatan orang tua ditonjolkan manakala kebuntuan akal terjadi dalam memberikan pengertian kepada anak.

Bundanya berlari kedalam rumah dan di ikuti oleh si bocah dengan lari dan menangis. Sungguh kami melihatnya dengan hati yang penuh iba. Seorang bocah yang belum tahu artinya berpisah, seorang bocah yang masih merasakan kerinduan dalam hatinya, seorang bocah yang penuh dengan ketakutan karena ancaman. Bijaksanakah kita dalam mendidik anak ? apakah tidak ada cara lain ? sudah cukup sabarkah kita dalam memberikan pengertian pada anak ?.

Semoga cuplikan kisah nyata tersebut memberikan cerminan bagi kita untuk lebih mau mendengar, memperhatikan dan mengerti seorang bocah serta mau menerima kondisi anak seperti apa adanya, dalam usaha kita untuk mendidik mereka. …Biarlah anak-anak itu, janganlah menghalang-hanlangi mereka datang kepadaku sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya kerajaan surga…”. 

Brajasa, Jakarta, 10 Juli 2003.

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s