Pertobatan Paulus dan Pertobatan Kita

“Aku tahu kepada siapa aku percaya.” (2 Timotius 1:12)

 PERTOBATAN PAULUS

Perawakannya tidak begitu gagah, tetapi pemuda ini disegani orang karena fanatismenya terhadap Hukum Taurat. Karena itu ketika mendengar bahwa di Damsyik terdapat begitu banyak pengikut Kristus yang kurang menghindahkan Hukum Taurat, ia terasa terpanggil dan wajib menumpas ‘bidaah’ ini. Ia mencari akal, agar yang berwenang mengesahkan niatnya. Begitu memperoleh surat tugas, ia memacu kudanya kencang-kencang menuju Damsyik. Hatinya berkobar-kobar dengan tujuan tunggal: menyeret mereka ke Yerusalem supaya diperlakukan sama seperti Guru mereka beberapa tahun yang lalu mati di kayu salib. Sementara asyik menyusun rencana jahatnya, tiba-tiba matanya disilaukan oleh cahaya kuat dari langit. Kudanya terhentak dan melonjak tinggi-tinggi, sehingga penunggangnya terhempas ke tanah. Ia menyoba merangkak mencari pegangan, tapi matanya serasa buta. Sayup-sayup terdengar suara penuh wibawa: “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Pemuda itu tertegun, namun hatinya menggigil. Kemudian ia bertanya: “Siapakah Engkau?” Balas suara itu: “Akulah Yesus yang kau aniaya. Bangunlah dan masuklah ke kota! Disana akan dikatakan apa yang harus kau perbuat.”

Saulus – demikian nama pemuda itu – seorang Yahudi, namun mewarisi kewarganegaraan Romawi dari ayahnya. Semula ia belajar Hukum Taurat pada rabbi terkenal yang bernama Gamaliel. Keahliannya yang lain adalah menyulam kemah. Ia menyaksikan perajaman Santo Stefanus, martir pertama. Di Damsyik Saulus segera dibaptis dan untuk sementara hidup menyendiri di Arabia. Waktu kembali ke Damsyik, ia menjadi penyebar ajaran Kristus yang tangguh.

Tetapi sesudah 3-tahun merasul, perlawanan orang Yahudi semakin menjadi-jadi, sehingga Saulus terpaksa melarikan diri di tengah malam: diturunkan dari tembok kota dalam keranjang. Ia menuju Yerusalem untuk menemui Petrus. Beberapa tahun kemudian ia menentang sikap Petrus yang kurang tegas sehubungan dengan pergaulan dengan umat Kristen keturunan bukan-Yahudi. Ini terjadi di Antiokia, pusat penyebaran agama Kristen di antara bangsa-bangsa lain. Inilah awal penyebarluasan Injil ke bagian timur kekaisaran Roma.

Mulai tahun 45 Saulus melakukan tiga perjalanan kerasulan yang terkenal, yaitu bermula dari Siprus, lalu bolak-balik ke Asia kecil, Makedonia dan Yunani. Sejak di Sipruslah ia disebut juga Paulus. Di setiap kota ia mula-mula berkotbah di sinagoga sebelum mengajar kaum bukan-Yahudi. Tahun 55 Paulus menuju Yerusalem untuk menyerahkan derma umat-umat baru kepada umat induk di Kota Suci. Tetapi kahadiran-nya itu menimbulkan heboh besar, sehingga ia ditahan gubernur Romawi selama 2-tahun. Sebagai warganegara Romawi ia naik banding ke kaisar sendiri. Maka ia dikirim ke Roma, namun kapalnya kandas di pulau Malta dan setibanya di di Roma ia dipenjara-kan lagi selama 2-tahun. Ketika Paulus sudah tua dan lemah, sekali lagi dijebloskan ke dalam penjara dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 67. Menurut tradisi ia dipenggal di suatu tempat yang kini disebut Tre Fontane – “Tiga mata air”. Sebab, begitu ditebas kepalanya terpental tiga kali di tanah dan setiap kali muncullah mata air di tempat itu. Diatas makamnya sekarang berdiri ‘Gereja Santo Paulus di luar tembok’. Paulus mewariskan 14 Surat yang ditulis atas ilham Roh Kudus seperti terdapat dalam Perjanjian Baru. Surat-surat tersebut, lebih dikenal dengan sebutan Epistula.

PERTOBATAN KITA

Pada saat ini, keadaan dunia secara nyata ditandai dengan semakin tumbuhnya mentalitas kepuasan diri yang mengancam hati umat manusia. Dalam masyarakat pada umumnya, dan tidak jarang lewat media masa, masyarakat disuguhi dengan tanpa henti pesan-pesan yang secara terbuka semakin ikut menumbuhkan sikap dangkal. Kepedulian akan sesama memang tampak terlihat ketika ada bencana alam, perang atau adanya bahaya lainnya, namun secara umum masih sulit untuk membangun budaya solidaritas. Semangat jaman ini telah mengubah sikap hati dari sikap berani memberikan diri tanpa pamrih bagi sesama dan kini menjadi menjadi dorongan untuk memuaskan kepentingan diri sendiri. Nafsu untuk memiliki menjadi sangat berlebihan. Tentu merupakan sesuatu yang alamiah dan menjadi hak setiap orang, bahwa karena bakat dan pekerjaannya berusaha mencukupi kebutuhan hidupnya. Namun nafsu berlebihan akan harta milik menghambat umat manusia untuk memiliki sikap terbuka akan Sang Pencipta dan sesamanya. Kata-kata Santo Paulus kepada Timoteus tetap relevan untuk sekarang ini yaitu: “Akar segala kejahatan adalah cinta akan uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka “ (1 Tim 6:10).

Cinta Tuhan yang telah tercurah berlimpah dalam hati kita hendaknya menjadi inspirasi dan mengubah siapa kita dan apa yang kita lakukan. Umat Kristiani jangan sampai berpikir bahwa mereka dapat menemukan kebaikan sesamanya tanpa menghidupi kasih Kristus. Bahkan dalam kasus-kasus, di mana mereka berhasil dalam menumbuhkan aspek penting dalam kehidupan, bila tanpa kasih setiap perubahan hanyalah akan berumur pendek. Kesediaan untuk memberikan diri bagi sesama pada dirinya sendiri merupakan pemberian yang datang dari rahmat Allah, sebagaimana Santo Paulus mengajarkan kepada kita semua melalui Fil 2: 13 “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu, baik kemudian maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya”.

Sepertinya tercantum dalam 1 Kor 14:1-40 bahwa Paulus mengajak jemaat tidak hanya bicara dalam bahasa roh melainkan juga bernubuat. Bernubuat dapat diartikan membangun, menasihati dan menghibur. Paulus juga mengajak kita untuk melakukan keseimbangan antara berdoa dan berkarya. Berkarya yang dimaksudkannya adalah membuat sesuatu yang kita perbuat dapat dimengerti dan berguna bagi orang lain, bukan hanya bagi kita sendiri.

Akhirnya dengan meneladani karya-karya Santo Paulus Rasul yang menjadi Santo Pelindung gereja kita di Labuh Baru ini, kita dituntut untuk lebih berkarya dengan nyata baik didalam lingkungan stasi, kring ataupun dalam kehidupan kita bersama didalam masyarakat secara umum dan luas dengan tanpa pamrih dan semata-mata kita persembahkan karya-karya kita hanya untuk Yesus. Dalam 1 Kor 13:13 tertulis: Demikianlah tinggal ketiga hal itu, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar diantaranya ialah kasih. Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat (1 Kor 14:1).

Oleh: Paulus Kuntono – Stasi Rumbai

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s