Maria Figur Kesetiaan Kita

Setia berarti patuh, setia berarti taat, setia berarti berpegang teguh pada janji dan pendirian. Bicara tentang kesetiaan tidak terlepas pula bicara tentang cinta, ataupun sebaliknya. Mencintai berarti kita harus keluar dari diri kita sendiri dan menemui obyek yang kita cintai. Anda mencintai saya tapi belum tentu anda setia pada saya. Anda mencintai panggilan anda tapi belum tentu anda setia pada panggilan anda. Kesetiaan dan cinta tidak terpisahkan. Kesetiaan dan cinta tidak sekedar berarti suatu kesediaan untuk berada bersama tetapi lebih berada untuk mencintai. Maria tidak sekedar berada bersama Yesus tetapi Maria lebih berada untuk mencintai Yesus. Ketika Yesus hendak mati di kayu salib, Maria bersama kedua saudaranya dan Yohanes, murid yang dikasihi Yesus, setia berdiri dibawah kaki kayu salib. Maria berada dekat dengan Yesus ketika Yesus lahir. Maria berada dekat dengan Yesus ketika Yesus memulai pelayananNya. Maria berada dekat dengan Yesus ketika Yesus wafat dikayu salib. Maria tidak hanya berada dekat dengan Yesus secara fisik, tetapi juga dekat dalam hatinya seperti Maria menerima kabar dari Malaikat Tuhan dengan iman dan kepatuhan, dan Maria merenungkan misteri kedatanganNya.

Kesetiaan Maria berada bersama Yesus karena Yesus adalah puteraNya. Meskipun semua orang telah menghukumNya dan menuduhNya sebagai seorang penjahat, namun Maria tidak percaya atas semua tuduhan tersebut. Orang-orang Yahudi berkata, “Kalau Engkau sesungguhnya Mesias anak Allah, selamatkanlah diriMu dan kami.” Pernyataan ini sungguh memiluhkan hati Maria, namun Maria memilih untuk tetap berdiri dibawah kaki salib. Teladan cinta Maria kepada putraNya mempresentasikan cinta Allah kepada manusia. Allah tidak melupakan dan meninggalkan manusia karena dosa. Cinta Allah terhadap manusia adalah cinta tanpa syarat dan tanpa pamrih. Allah menerima manusia seperti apa adanya. Allah terus menyapa kita, “kembalilah…., Aku telah menantikanmu sekian lama.” Allah menyambut kita bukan dengan kemarahan atau tuduhan, tapi dengan penuh cinta.

Seorang wanita mengalami kegembiraan besar ketika ia mengandung dan melahirkan anaknya. Maria semestinya telah merasakan kegembiraan itu ketika ia mengandung dan melahirkan puteraNya. Namun komitmen Maria diuji bukan pada saat semuanya itu baik tapi pada saat segala sesuatu nampak sulit bahkan tidak mungkin. Maria menyaksikan hal ini dengan tetap berdiri dibawah kaki salib. Inilah moment yang paling penting sebagai pernyataan kesetiaan Maria kepada puteraNya.

Ada orang dilahirkan sebagai orang yang beruntung, ada pula orang yang dilahirkan sebagai orang yang malang. Maria termasuk kelompok orang yang beruntung. Dia beruntung karena mengandung tanpa noda, dipilih menjadi bunda Allah dan bunda manusia. Kita yakin bahwa kita tidak sama seperti Maria. Namun kita juga yakin, bahwa jiwa dan raga kita akan dikuduskan kelak pada akhir zaman ketika Yesus datang sebagai hakim untuk mengadili dan menempatkan kita dalam kerajaan Allah.

Kesetiaan dan cinta tidak sekedar berarti suatu kesediaan untuk berada bersama, tetapi lebih berada untuk mencintai. Pernahkah anda mengalami dicintai, meski tidak cantik atau ganteng? Pernahkah anda mengalami terus dicintai meski anda tidak setia? Pernahkah anda mengalami dicintai oleh seorang sahabat yang anda khianati? Kalau anda pernah, maka anda merealisasikan cinta yang dikehendaki Allah. Cinta Allah mengagumkan kita. Cinta Allah membuat kita bahagia, membuat detak jantung kita bergetar lebih cepat karena kita dicintai seperti apa adanya. Cinta Allah kepada kita adalah cinta tanpa pamrih.

Suatu ketika ada seorang yang hendak meninggal dunia. Namanya Adi. Menyadari ajalnya sudah dekat, ia memanggil dan mengumpulkan semua anggota keluarganya. Ia berkata kepada istrinya, Runi, “Saya tahu bahwa saya hampir meninggal. Berjanjikah engkau kepadaku bahwa engkau akan menikah lagi?” Runi menolak. Katanya, “Tidak, jangan katakan demikian. Hal itu tak mungkin terjadi.” Adi berkata lagi, “Kalau saya meninggal, jangan kuburkan pakaianku, tapi berikan kepada suamimu yang baru, supaya engkau tidak akan melupakanku.” Runi menolak. Katanya, “Tidak, jangan katakan demikian. Hal itu tak mungkin terjadi.” Adi berkata lagi, “Kalau saya meninggal, jangan kuburkan pakaianku, tapi berikan kepada suamimu yang baru, supaya engkau tidak akan melupakanku.” Runi sekali lagi menjawab, “Tidak, hal itu tak mungkin, mustahil terjadi.” Adi lalu kembali bertanya, “Mengapa tidak?”

Cerita singkat ini mau menunjukkan betapa beda antara kata dan tindakan. Pepatah kuno mengatakan: janji adalah utang. Namun sering kita temukan dalam masyarakat bahwa janji menjadi kesempatan untuk berbohong. Orang sering berdusta, menipu dan menipu terus. Memang berjanji itu gampang, tapi untuk memenuhinya membutuhkan usaha dan pengorbanan.

Mendengar, membaca, dan mengamati peristiwa akhir-akhir ini dalam masyarakat kita, maka saya boleh mengatakan adanya krisis kesetiaan. Ada pasangan suami istri yang sudah berjanji untuk setia dalam hidup perkawinan, tapi kemudian mengingkari janji itu dan memilih teman hidup yang lain. Sering kita dengar istilah: PIL: Pria Idaman Lain, dan WIL: Wanita Idaman Lain. Ada pejabat yang pada saat pelantikannya bersumpah dihadapan rakyat bahwa mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk mengabdi pada bangsa, rakyat, dan tanah air. Namun sesudah dua atau tiga tahun, tidak mengindahkan sumpah mereka. Mereka hanya menggunakan jabatan dan kuasanya untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Ada imam-imam yang telah menjanjikan selibat untuk seumur hidup dihadapan Uskup dan umat beriman, namun setelah beberapa tahun, bahkan tidak sampai setahun telah membebaskan diri dari janjinya untuk berpacaran dan menikah. Ada biarawan-biarawati yang sudah mengikrarkan kaul kekal dan berjanji untuk mengikuti Kristus secara total, namun sesudah satu, dua, lima, sepuluh tahun berani mengatakan bahwa mereka tidak terikat lagi pada janji yang telah diucapkan. Memang berjanji itu gampang, namun untuk memenuhinya membutuhkan usaha dan pengorbanan.

Sebab itu sangat berguna pada kesempatan bulan Maria ini, anda dan saya memilih dan meneladani tokoh panutan dalam hal kesetiaan. Dalam hal ini Maria adalah figur kesetiaan kita. Maria dicintai dan mencintai, karena Maria telah keluar dari realitas dirinya dan mencintai panggilan Tuhan.

Kita ingat kata-kata Maria, “Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataanMu.” Sangat jelas ucapan ini bahwa Maria mengikat janjinya untuk mau melayani Tuhan dan umat manusia. Namun janji itu membutuhkan usaha dan pengorbanan. Ketika Maria menyaksikan penderitaan puteranya. Inilah korban terberat bagi Maria. Namun Maria tetap setia, bahkan setia sampai di kaki salib. Maria merupakan tolok ukur dan pedoman arah (kompas moril) kesetiaan kita. Amin.

Ignatius Nugroho – Warga Stasi Rumbai

 

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s