Gereja Sebagai Umat Allah dan Hirarki

A. GEREJA MENURUT KONSILI VATIKAN II

Konsili Vatikan II, khususnya dalam dokumen Lumen Gentium (Dokumen Kon Vat II mengenai Gereja) memberikan penjelasan tentang model-model Gereja yang biasa dikembangkan dalam setiap paroki. Model Gereja yang dipaparkannya bertujuan untuk saling menlengkapi satu dengan yang lain, bukan untuk membedakan masing-masing.

1. Gereja Umat Allah

Umat Allah (laos theos) adalah paguyuban orang-orang yang beriman, yang telah dipilih oleh Allah. Sebagai anak-anak Allah semuanya mempunyai martabat yang sama dalam pembaptisan. Tidak ada umat kelas VIP, semua anak Allah.  Awam, imam, biarawan-biarawati, para tokoh umat semuanya berjalan bersama berjiarah menuju Bapa. Semuanya ikut ambil bagian dalam pembangunan jemaat, solider dan saling memperhatikan.

2. Gereja Tubuh Kristus

Dalam Gereja Tubuh Kristus ada kesatuan erat antara Kristus dengan anggotanya, yang mempunyai fungsi untuk saling melengkapi. Gereja merupakan organisme yang hidup, yang mendapat makanan dan pertumbuhan dari Kristus sebagai Kepala atas Tubuh-Nya. Unsur kesatuan, kebersamaan, saling melengkapi, saling menghormati menjadi prinsip utama karena dalam kebersamaan itu adalah kepenuhan (pleroma) Kristus. Kristus berkarya dalam dan melalui Tubuh-Nya yakni Gereja.

3. Gereja Kenisah Roh Kudus

Roh Allah tinggal dalam Gereja, menjiwai dan menghidupi Gereja. Oleh karena itu Gereja menjadi persekutuan orang-orang yang dihidupi oleh Roh Kudus, penuh daya kreativitas dan daya juang untuk mewartakan Kabar Gembira, sebagaimana Gereja Perdana dalam Kisah Para Rasul. Berkat daya Roh Kudus, mereka diteguhkan sebagai anak-anak Allah. Gereja menjadi dinamis, gembira, bersemangat. Memberi kesaksian di tengah masyarakat tentang cinta kasih.

4. Gereja sakramen Keselamatan

Berkat karya Roh Kudus Gereja tumbuh dan berakar dalam masyarakat dan budaya yang berbeda-beda. Kehadiran Gereja di tengah masyarakat menjadi tanda dan sarana hadirnya Kerajaan Allah. Gereja hadir dalam kelompok kecil, saling mengenal, saling memperhatikan, bersatu untuk berdoa dan merenungkan Sabda Tuhan, akhirnya berani hidup bersama dengan semua orang dalam semangat persaudaraan yang tulus.

B. HIERARKI DALAM GEREJA KATOLIK

Hierarki atau struktur kepemimpinan dalam gereja katolik. Struktur kepemimpinan Gereja sekarang dapat diurutkan sebagai berikut:

1. Dewan Para Uskup dengan Paus sebagai Kepalanya 

Sejak akhir zaman Gereja Perdana, para uskup sudah dipandang atau diterima sebagai pengganti para rasul (tidak berarti 12 uskup). Bukan kedua belas rasul diganti satu per satu tetapi kalangan para rasul sebagai pemimpin Gereja diganti oleh para uskup. Tugas dewan para uskup adalah menggantikan tugas dewan para rasul yang menjadi pimpinan Gereja adalah dewan para uskup. Kedua belas rasul merupakan dewan atau badan yang tetap dan Yesus menetapkan Petrus sebagai ketua dewan. Seperti Santo Petrus dan para rasul lainnya yang atas penetapan Tuhan merupakan satu dewan para rasul, pun pula Paus, pengganti Petrus, bersama para uskup, pengganti rasul, merupakan satu himpunan yang serupa.

a. Paus

Dewan para uskup hanya berwibawa jika bersatu dengan imam agung di Roma, yaitu Paus, pengganti Petrus. Paus sebagai wakil Kristus dan gembala Gereja semesta mempunyai kuasa penuh, tertinggi dan universal terhadap Gereja dan kuasa itu selalu dapat dijalankannya dengan bebas (LG art 22). Penegasan itu didasarkan pada kenyataan bahwa kristus mengangkat Santo Petrus menjadi ketua dewan para rasul lainnya. Petrus diangkat menjadi pemimpin para uskup.

b. Uskup

Uskup adalah pengganti rasul. Tugas pokoknya adalah mempersatukan dan mempertemukan umat. Tugas pemersatu itu selanjutnya dibagi menjadi tiga tugas khusus menurut tiga bidang yaitu pewartaan, perayaan, pelayanan. Kemudian, tugas yang terpenting adalah pewartaan Injil (LG. art 25).

c. Imam 

Imam adalah wakil Uskup. Dalam arti tertentu, imam menghadirkan uskup. Tugas konkret imam adalah sama seperti uskup. Mereka ditahbiskan oleh uskup untuk mewartakan Injil dan menggembalakan umat beriman.

d. Diakon 

Diakon adalah orang yang ditahbiskan untuk pelayanan dan bukan untuk imamat. Diakon adalah pembantu khusus uskup dalam bidang materi, sedangkan imam itu pembantu umum. Dalam hal ini cardinal tidak termasuk dalam jabatan hierarkis dan tidak masuk dalam struktur hierarkis. Cardinal adalah penesihat utama Paus yang membantu dalam reksa harian seluruh Gereja. Para cardinal membentuk dewan para cardinal yang jumlahnya dibatasi 120 orang yang berumur di bawah 80 tahun. Seorang cardinal dipilih paus dengan bebas.

2. Dasar Hierarki Gereja

Hierarki dan struktur hierarki berasal dari Kristus. Kristus sendirilah yang diyakini memilih para pejabat Gereja. “ atas penetapan Ilahi, para uskup menggantikan para rasul sebagai penggembala Gereja (LG art 20). Struktur hierarkis bukanlah sesuatu yang ditambahkan atau dikembangkan dalam sejarah Gereja saja namun menurut Konsili Vatikan II, struktur itu dikehendaki Tuhan dan akhirnya berasal dari Tuhan Yesus sendiri. Wujud Gereja Perdana beserta struktur kepemimpinannya menjadi patokan bagi perkembangan Gereja selanjutnya orang-orang yang memegang jabatan hierarki dalam Gereja bukanlah orang-orang yang mencapainya berdasarkan prestasi, tetapi dipilih dan diutus. Dengan proses pemilihan dan pengutusan inilah, kita meyakini bahwa Allah sendirilah yang memilih dan mengutus orang-orang yang berada dalam struktur hierarki Gereja.

3. Fungsi Khusus Hierarki

Seluruh umat Allah mengambil bagian dalam tugas Kristus sebagai nabi, imam dan raja (mengajar, menguduskan dan menggembalakan). Namun umat tidak bersifat seragam. Ada imam, biarawan/i, dan awam. Maka Gereja mengenal pembagian tugas yang berbeda. Fungsi khusus hierarkis adalah:

  • Menjalankan tugas gerejani, yakni tugas-tugas yang secara langsung dan eskplisit menyangkut kehidupan beriman Gereja, seperti melayani sakramen-sakramen, mengajar agama, dll
  •  Menjalankan tugas kepemimpinan dalam komunikasi iman, Hierarki mempersatukan umat dalam iman dengan petunjuk, nasihat dan teladan.

4. Ciri kepemimpinan dalam Gereja 

  • Kepemimpinan adalah panggilan khusus, dan bukan berdasarkan bakat dan prestasi.
  • Kepemimpinan Gereja bersifat melayani dan mengabdi dalam arti semurni-murninya dan bukan untuk dilayani (Mat 20:28).
  • Kepemimpinan hierarki berasal dari Tuhan sehingga tidak dapat dihapus oleh manusia. Berbeda dengan kepemimpinan masyarakat yang dipilih oleh manusia sehingga dapat dihapus oleh manusia (Mat 4:18-22; Mrk 3:13-18).

Oleh: Sr. Agustine KFSL, Sr. Ezra KSFL, Sr. Silvi KSFL dan Sr. Pakaina KSFL (Para suster KSFL dari Stasi Santa Lusia Rumbai, Paroki Santo Paulus Pekanbaru)

Digunakan untuk materi Katekese ke umat di kring-kring Stasi Santa Lusia Rumbai di bulan Februari 2013.

Sumber:

1. Dr. CB, Putranto, SJ., Pengantar Ekklesiologi, Seri Puskat, Yogyakarta

2. Dokumen Konsili Vatikan II

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s