Sakramen Pengakuan Dosa

Mengapa Mengaku Dosa Itu Baik?

Dikatakan bahwa “Orang Katolik tidak perlu membayar biaya Psikiater (= dokter ahli jiwa) seperti orang lain, sebab kita memperolehnya secara gratis setiap hari Sabtu dalam Kamar Pengakuan.” Yah, pernyataan itu tidak sepenuhnya benar – hanya sedikit saja imam yang memang seorang psikiater – tetapi sungguh benar bahwa kamu mempunyai seorang penolong yang hebat untuk memberimu nasehat serta penyembuhan dalam Sakramen Rekonsiliasi (atau Sakramen Pengakuan Dosa) yang kamu terima secara teratur. Lagipula dan ini sesungguhnya yang lebih penting – kamu memperoleh kuasa Sakramen untuk melakukan perubahan-perubahan yang diperlukan dalam hidupmu agar memperoleh damai.

Dikatakan juga bahwa “Pengakuan Dosa itu baik bagi jiwa.” Memang benar demikian. Berbahaya sekali memendam persoalan-persoalan di dalam hati kita sendiri. Seringkali, hal terbaik yang dapat kita lakukan ialah membicarakannya dengan seseorang yang kita percaya. Dengan siapakah kita dapat melakukannya lebih baik daripada dengan seorang imam Katolik?

Apa Itu Dosa?

Pada dasarnya, Dosa ialah sesuatu yang kita lakukan yang menyakiti orang lain. Jika kita menyakiti orang lain, kita bersalah. Mungkin tampaknya terlalu “Katolik” untuk merasa khawatir akan kesalahan kita, tetapi kesalahan sebenarnya adalah masalah tanggung-jawab. Jika kita menyakiti orang lain, kita harus merasa bersalah karena kita bertanggung jawab atas penderitaan orang itu.

Tentu saja, ada sebagian orang yang khawatir akan kesalahan mereka secara berlebihan. Mereka mempunyai skrupul batin (skrupul: sangat teliti, bahkan kadang berlebihan, pada hal yang sekecil-kecilnya) dan merasa berdosa dalam segala sesuatu yang mereka lakukan. Tetapi hal seperti itu sudah tidak lazim lagi di abad ke-21 ini!

Kebanyakan orang tidak lagi peduli akan akibat-akibat dari perbuatan mereka. Mereka hidup hanya untuk saat ini. Sesungguhnya, segala sesuatu yang kita lakukan membawa akibat bagi orang lain, kadang-kadang akibat baik, tetapi seringkali akibat buruk. Akibat itu disebut “Efek Domino” – yaitu serentetan akibat yang dapat menimbulkan masalah selama bertahun-tahun.

Biasanya ada tiga pihak yang menderita karena dosa: orang yang kamu sakiti, kamu sendiri, dan Tuhan. Mengapa Tuhan? Karena Tuhan adalah Bapa semua orang. Semua Bapa menderita jika anak-anak mereka disakiti. Tuhan itu penuh belas kasih. “Belas Kasih” artinya ikut merasa menderita dengan penderitaan orang lain. Tuhan sungguh-sungguh merasakan penderitaan kita, seolah-olah penderitaan itu menimpa Tuhan sendiri.

Untungnya, Kita Dapat Melakukan Sesuatu

Begitu kita sadar bahwa kita menyakiti orang lain, saatnyalah bagi kita untuk berubah. Itulah alasan utama Pengakuan Dosa. Tuhan mengampuni kita DAN memberi kita pertolongan untuk berubah.

Mengapa Saya Harus Mengakukan Dosa-Dosa Saya Kepada Seorang Manusia?

Sebagian orang mengatakan bahwa mereka tidak perlu mengakukan dosa-dosa mereka kepada seorang manusia. Mereka mengatakan bahwa mereka dapat mengatakan kepada Tuhan bahwa mereka menyesal dan Tuhan akan mengampuni mereka, di mana saja, dan kapan saja. Tetapi Sakramen Pengakuan Dosa (atau Rekonsiliasi) lebih dari hanya sekedar pengampunan dosa. Jika kita sungguh-sungguh menyesal, kita perlu berubah, berhenti berbuat dosa.

Imam adalah penasehat yang dapat menjelaskan mengapa kita bersalah dan bagaimana kita dapat berubah. Imam tidak berada di sana untuk menghakimi atau pun menghukum kita. Imam berada di sana untuk menganalisa masalah serta menyarankan penyembuhannya. Ia dapat menjelaskan segala sesuatunya dan bahkan akan mengatakan kepadamu jika kamu memang tidak bersalah.

Penitensi adalah bagian dari penyembuhan. Penitensi merupakan suatu langkah kecil awal untuk mengubah cara hidup kita. Kita tidak harus mengubah cara hidup kita saat itu juga, tetapi kita harus berubah. Sakramen Pengakuan Dosa memberi kita kekuatan untuk melakukan perubahan.

Darimanakah Sakramen Pengakuan Dosa Berasal?

Yesus-lah yang memulai Sakramen Rekonsiliasi. Pada hari raya Paskah, Ia bersabda kepada para murid-Nya: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:21-23)

Kuasa ini diwariskan selama berabad-abad. Sakramen adalah semacam bahasa isyarat dari Tuhan. Sakramen berbicara langsung kepada jiwa. Tidak seperti bahasa isyarat lainnya, bahasa isyarat Tuhan memiliki kuasa untuk melakukan apa yang dikatakannya. Isyarat dalam Sakramen Pengakuan adalah absolusi (=pengampunan dosa) oleh imam. Gereja melaksanakan apa yang diperintahkan Yesus kepada kita, “mengampuni dosa orang.”

“Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yak 5:16)

Penitensi

Absolusi adalah langkah awal dari proses perubahan. Penitensi (= denda dosa) adalah langkah selanjutnya. Penitensi bukanlah suatu hukuman atas dosa-dosa yang kita akukan. Penitensi adalah langkah untuk menyembuhkan. Penitensi yang terbaik bukanlah setumpuk doa-doa belaka, tetapi tindakan-tindakan nyata untuk mengatasi dosa. Misalnya, jika seseorang mengaku dosa karena marah kepada sahabatnya, penitensinya kemungkinan adalah berlaku lebih lembut dan sabar kepada sahabatnya itu. Memang suatu hukuman yang berat, tetapi dapat menghasilkan mukjizat.

Bagaimana Saya Dapat Mengaku Dosa Dengan Baik?

Selalu mulai dengan mengingat. Pikirkan orang-orang yang ada di sekitarmu. Mungkin diawali dengan keluargamu. Kemudian yang lainnya juga: sanak saudara, tetangga, rekan sekerja, teman sekolah, orang yang kamu potong jalannya di jalan raya minggu lalu, dan sebagainya, dan sebagainya.

Pikirkan tentang kejadian-kejadian baru-baru ini dalam hidupmu yang melibatkan orang-orang tersebut. Pengaruh apakah yang kamu berikan kepada mereka? Apakah, jika ada, yang kamu lakukan sehingga menyakiti mereka? Juga, apakah yang seharusnya kamu lakukan, tetapi tidak kamu lakukan? Adakah seseorang yang  membutuhkan pertolongan dan kamu tidak menawarkan pertolonganmu?

Sekarang tarik mundur ingatanmu agak sedikit jauh ke belakang. Kemungkinan kamu tidak melakukan suatu dosa besar atau “dosa berat”, tetapi adakah dosa-dosa yang merupakan kebiasaan, yang kamu lakukan dan lakukan lagi. Setetes air hujan mungkin tidak berarti, tetapi jika tetesan-tetesan itu ditampung untuk jangka waktu yang lama, maka tetesan hujan itu dapat mengakibatkan banjir! Suatu ejekan, yang kecil dan sepele – jika diulang dan diulang- dapat menjadi gunung kebencian.

Pemeriksaan Batin

Kecuali jika kamu mempunyai ingatan yang luar biasa, pada umumnya kamu lupa akan sebagian besar perkara yang kamu lakukan. Oleh karena itulah suatu sarana sederhana diperlukan untuk membantumu. Sarana itu disebut “Pemeriksaan Batin” yaitu suatu daftar pertanyaan untuk diajukan kepada dirimu sendiri sebelum kamu mengaku dosa. (lihat Lembar Pemeriksaan Batin)

Suara Batin atau Hati Nurani adalah kesadaran moral atau etik atas kelakuanmu dengan dorongan untuk memilih yang baik dari yang jahat. Suara batin haruslah dibentuk dalam terang Sabda Allah, yaitu melalui Gereja.

Mengaku Dosa

Pelaksanaan Sakramen Pengakuan dapat berbeda dari tempat yang satu dengan tempat yang lain. Di beberapa tempat, pengakuan dilaksanakan dalam Kamar Pengakuan. Di tempat lainnya, dibuat suatu tempat pengakuan khusus.

Kamu boleh berlutut di balik sekat atau boleh juga berlutut berhadapan muka dengan imam. Secara pribadi, saya lebih menyukai posisi berlutut menghadap imam, sebab imam berada di sana untuk menjadi penasehatmu. Jika ia dapat melihat ke dalam matamu, ia dapat mempunyai gambaran yang lebih baik bagaimana menasehatimu. Matamu berbicara banyak tentang kamu! Imam tidak berada di sana untuk memarahimu atau menghakimimu. Imam juga seorang yang berdosa seperti semua orang lain. Imam harus mengaku dosa juga!

Apa Yang Saya Katakan?

Tata cara Sakramen Pengakuan dapat berbeda-beda, tetapi biasanya imam akan menyambutmu. Mungkin imam akan berbincang sejenak denganmu, atau memulai dengan sebuah doa. Terkadang imam membacakan suatu perikop dari Kitab Suci tentang belas kasih Tuhan.

Sungguh, kamu tidak perlu khawatir tentang rumusan-rumusan atau doa-doa tertentu. Memang mungkin ada suatu rumusan standard di tempatmu, tetapi yang terbaik adalah menjadikan segala sesuatunya praktis. Sebaiknya kamu merasa santai dan mengatakan kepada imam sudah berapa lamakah sejak pengakuanmu yang terakhir, atau menjawab pertanyaan yang mungkin diajukan oleh imam.

Yang terpenting adalah meminta pertolongan. Jika kamu terbiasa tanpa pikir panjang mengucapkan suatu daftar panjang tentang hal-hal yang sama, mungkin kamu dapat mencoba untuk berkonsentrasi pada beberapa di antaranya, daripada menyebutkan semua yang biasa kamu katakan.

Imam mungkin akan meminta keterangan lebih lanjut, tetapi hal itu hanya dimaksudkan agar ia dapat memberikan nasehat yang terbaik bagimu. Hal utama yang perlu diingat adalah bahwa pengakuanmu itu sifatnya pribadi dan hanya dimaksudkan untuk menolongmu. Kamu berada di sana untuk didamaikan kembali dengan Tuhan. Pastilah Tuhan merindukan untuk bersahabat kembali denganmu!

Sesudah Pengakuan Dosa

Kamu akan keluar dari Kamar Pengakuan dengan perasaan lega! Cobalah untuk melaksanakan penitensi penyembuhanmu sesegera mungkin. Kamu telah diampuni, disembuhkan serta dipulihkan sepenuhnya persahabatanmu dengan Tuhan. Salah satu hal terindah tentang pengampunan dosa adalah bahwa Tuhan mengampuni dan melupakan! Begitu dosa-dosamu telah diampuni, kamu diperbaharui dalam rahmat Tuhan. Kamu harus mempunyai niat yang kuat untuk menghindari dosa di masa mendatang. Tetapi jika kamu tergelincir atau melakukan kesalahan, ingatlah TUHAN SENANTIASA ADA DI SANA DENGAN KASIH-NYA!

Lembar Pemeriksaan Batin

I. Akulah Tuhan Allahmu. Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepada-Ku saja dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu.

  • Apakah aku menyediakan waktu setiap hari untuk berdoa kepada Tuhan?
  • Apakah aku percaya akan takhyul dan jimat, dan bukannya percaya kepada Tuhan saja?
  • Pernahkah aku menolak ajaran Gereja atau menyangkal bahwa aku seorang Katolik?

II.  Jangan menyebut Nama Tuhan Allah-mu dengan tidak hormat.

  • Pernahkah aku menyebut nama “Tuhan” atau “Yesus” dengan tidak hormat?
  • Pernahkah aku menggunakan kata-kata kotor atau mengumpat? Apakah aku mengharapkan yang jahat bagi orang lain?

III. Kuduskanlah hari Tuhan.

  • Pernahkah aku tidak pergi ke Misa pada hari Minggu atau pada hari yang diwajibkan?
  • Apakah aku datang terlambat ke gereja atau apakah aku pulang lebih awal? Apakah aku berusaha khidmat dan menaruh perhatian selama Misa?
  • Apakah aku menghindari pekerjaan-pekerjaan yang tidak diperkenankan pada Hari Minggu?
  • Apakah aku menjadikan Hari Minggu sebagai hari untuk berdoa dan beristirahat?

IV. Hormatilah ibu-bapamu.

  • Apakah aku hormat serta taat kepada orangtuaku?
  • Pernahkah aku melawan atau menyakiti mereka dengan perkataan atau perbuatan?
  • Apakah aku bersedia melakukan kewajibanku di rumah ataukah aku harus diomeli berulang kali?
  • Apakah aku berusaha untuk rukun dengan kakak dan adikku? Apakah aku suka mengadu atau suka mengganggu?
  • Apakah aku memberikan teladan yang baik, terutama kepada adik-adikku?
  • Apakah aku menghormati mereka yang berwenang: para imam, biarawati, polisi,  orang lanjut usia, pembantu, dll?

V. Jangan membunuh.

  • Apakah aku memukul teman-temanku atau menyakiti tubuh mereka?
  • Apakah aku mengatakan yang jahat, atau memperolok anak-anak lain untuk menyakiti hati mereka?
  • Apakah aku mengatakan hal-hal yang jahat tentang orang lain?
  • Pernahkah aku tidak bertegur sapa dengan seseorang? Apakah aku menganjurkan teman-temanku untuk melakukan yang jahat?
  • Apakah aku berusaha untuk mengasihi semua orang?

VI. Jangan berzinah.

  • Apakah aku memperlakukan tubuhku dan tubuh orang lain dengan sopan dan hormat?
  • Apakah aku menonton acara televisi, film atau gambar-gambar yang tidak sopan?
  • Apakah aku rendah hati dalam perkataanku dan apakah aku berpakaian dengan sopan?

VII. Jangan mencuri.

  • Pernahkan aku mengambil barang-barang yang bukan milikku dari toko atau dari orang lain?
  • Pernahkah aku merusakkan atau menyalahgunakan barang-barang milik orang lain dengan sengaja?
  • Apakah aku mengembalikan barang-barang yang aku pinjam? Dan dalam keadaan baik?

VIII. Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu.

  • Apakah aku jujur dalam pekerjaan sekolahku?
  • Apakah aku berbohong agar aku tampak hebat?
  • Apakah aku berbohong agar aku tidak dihukum?
  • Apakah aku berbohong untuk memperlihatkan kelemahan orang lain atau agar mereka tertimpa masalah?

IX.  Jangan mengingini isteri sesamamu.

  • Apakah aku memberi kesempatan kepada orangtuaku untuk melewatkan waktu bersama, ataukah aku menjadi iri hati dan ingin agar mereka mencurahkan perhatiannya hanya untukku saja?
  • Apakah aku marah jika teman-temanku bermain dengan yang lain?
  • Apakah aku tidak mau bermain dengan anak-anak tertentu atau aku bersikap jahat kepada mereka karena mereka berbeda?

X.  Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil.

  • Apakah aku iri dan dengki akan barang-barang atau kemampuan yang dimiliki orang lain?
  • Apakah aku berterimakasih kepada Tuhan dan kepada orangtuaku atas apa yang telah mereka berikan kepadaku?
  • Apakah aku berbagi apa yang aku miliki dengan keluargaku, teman-temanku dan orang-orang yang membutuhkan?

Oleh: Paulus Kuntono H – Stasi Rumbai

Sumber:

“An Examination of Conscience for Children” by Fr. Edward Filardi, Gaithersburg, Maryland

“News For Kids, Rm Richard Lonsdale”; Catholic1 Publishing Company;

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s